"Lagian, lo berdua sesama CEO kerjaannya tukar pikiran mulu, tapi masalah hati bisa-bisanya lo kecolongan, Ray," goda Fina, menyenggol lengan Adrian dengan akrab.Rayhan mendengus, ia meraih gelas minumannya, lalu menatap Adrian dengan pandangan menyelidik. "Gue masih nggak habis pikir aja. Seorang Adrian yang kalau di forum bisnis omongannya cuma seputar saham dan ekspansi pasar, tiba-tiba bisa se-sat-set ini ngelamar anak orang."Adrian hanya tersenyum tipis, ia merapikan sedikit kemejanya untuk menghilangkan rasa gugup. "Kalau udah ketemu yang pas, buat apa ditunda-tunda, Ray? Lo sendiri dulu pas nikahin Kayla juga nggak pakai lama, kan?"Skakmat. Rayhan langsung terdiam, membuatku dan Fina spontan tertawa keras melihatnya mati kutu."Tuh, dengerin!" sahut Fina puas. "Sahabat lo aja lebih pinter nyari celah daripada lo yang biasanya paling hobi ceramah.""Iya, iya, gue kalah," pasrah Rayhan sambil mengangkat kedua tangannya ke udara. Namun, sedetik kemudian wajahnya melembut. Ia me
Read more