Langkah Edward tetap stabil hingga mereka berhenti di depan kamar hotel Mariana. Koridor malam itu terasa lebih lengang, lampu-lampu hangat memantulkan bayangan mereka di lantai mengilap—sebuah pemandangan yang hampir terlalu mencolok untuk diabaikan: seorang pria yang terus berjalan sambil menggendong seorang wanita, tanpa sedikit pun tanda ingin menurunkannya. Mariana sudah beberapa kali membuka mulut, ingin protes, ingin bilang bahwa ia sebenarnya bisa berjalan sendiri. Namun setiap kali kata-kata itu hampir keluar, selalu ada sesuatu yang menahannya—entah rasa lelah, atau mungkin sesuatu yang lebih sulit ia akui. “Edward,” akhirnya ia bersuara juga, pelan, nyaris seperti bisikan yang kehabisan tenaga. “Kartu kamarku di tas.” “Ambil saja,” jawab Edward ringan, seolah itu hal paling sederhana di dunia. Mariana meliriknya dengan kesal yang setengah hati. “Aku lagi kamu gendong.” “Ya, makanya,” balasnya tenang, “tanganku lagi dipakai.” Ia mendesah pelan, lalu dengan geraka
Read more