LOGINPagi itu, Edgar bangun lebih cepat dari biasanya. Sinar matahari bahkan belum menyentuh ujung kasur, tapi ia sudah terduduk, mata merah, rambut berantakan seperti ayam mabuk. Biasanya, ia baru bangun kalau aroma mi goreng mulai menyusup ke dalam mimpinya. Tapi hari ini berbeda.Ia bangkit dari tempat tidur dengan gerakan penuh tekad, seperti prajurit yang siap masuk barak pelatihan. Celana yang biasa ia kenakan saat tidur dilipat rapi, digantung di belakang pintu. Lalu ia membuka lemari pakaian—lebih tepatnya bagian bawah yang sudah lama tidak ia sentuh—dan menarik keluar sehelai kemeja kotak-kotak. Warnanya merah-biru dengan garis hitam kusam, masih menyimpan aroma kamper dari dalam lipatan. Pakaian itu jelas tidak cocok untuk siapa pun yang hendak ke tempat umum, kecuali memang berniat menyerahkan diri ke pihak berwenang.Mariana melirik dari meja makan. Tangannya sibuk menyobek roti sobek isi meses yang lengket di telapak, mulut masih penuh, tapi matanya tak lepas dari pemandangan
Malam itu, Mariana benar-benar mengira semuanya akan berjalan tenang. Lampu kamar sudah ia pastikan redup, hanya menyisakan cahaya kekuningan yang lembut di dinding, seperti bayangan lilin. Diffuser di pojok ruangan berdesis pelan, mengeluarkan aroma lavender yang menenangkan. Musik instrumental diputar dengan volume rendah, sekadar pengiring agar suasana terasa adem. Setelah seharian bekerja diluar kota, tubuh Mariana terasa remuk, dan yang ia inginkan hanya satu: tidur nyenyak tanpa drama. Edgar juga sudah bersih. Mariana sendiri yang menyeretnya ke kamar mandi, memastikan ia gosok gigi dan cuci muka sebelum tidur. celana panjang favorit bergambar bebek kuning berjajar sudah terpasang rapi, dipadukan dengan kaos longgar abu-abu. Itu “seragam wajib” Edgar saat tidur malam. Melihatnya berkeliaran dengan outfit itu, rasanya seperti bocah sepuluh tahun yang tersesat di tubuh pria dewasa. Mariana sempat berpikir: malam ini mungkin akan normal. Tapi tentu saja, ia salah besar. Baru l
Mariana pulang lebih larut dari biasanya malam itu. Bahunya terasa pegal, pikirannya penuh, dan langkahnya sedikit berat saat membuka pintu rumah. Belum sempat ia menarik napas panjang, suara langkah kecil sudah terdengar dari dalam. “Mar…!” suara itu disusul tawa kecil. Di ruang tengah, Edgar sudah berdiri sambil menggendong Lucy. Wajahnya langsung berbinar begitu melihat Mariana, seolah-olah hari yang panjang itu langsung terbayar lunas hanya dengan satu tatapan. Lucy yang tadinya anteng langsung meronta kecil, tangannya menggapai-gapai ke arah Mariana. “Ini lho, dari kemarin nyariin kamu,” kata Edgar sambil tertawa pelan. “Kangen katanya.” Mariana menghela napas, lelahnya sedikit luruh. Ia mendekat, mengusap kepala kecil Lucy yang langsung menempel ke dadanya dengan manja. “Iya, iya… Mama juga kangen,” gumamnya lembut. Lucy langsung nyaman dalam pelukan itu, pipinya menempel, mencari kehangatan yang ia rindukan sejak sore. Mariana hanya bisa tersenyum tipis, membiar
Tangannya bergerak lebih lambat sekarang, tidak seceroboh sebelumnya. Ada kesadaran yang muncul—tentang seberapa dekat posisi mereka, tentang bagaimana situasi ini sudah berubah dari sekadar perebutan benda menjadi sesuatu yang… lebih rumit. Tangannya masuk ke dalam saku celana Edward. Dan yang ia temukan— sesuatu yang menonjol Mariana kaget dan berhenti. Keningnya langsung berkerut, dan ia mengecek sekali lagi, kali ini lebih cepat, lebih dalam, seolah berharap ia hanya salah meraba. Tetapi itu bukan hp. Perlahan, ia mengangkat wajahnya. Tatapannya berubah, bukan lagi sekadar kesal, tapi juga sedikit tidak percaya. “Mana hpmu? Edward tidak langsung menjawab. Ia justru mengangkat tangan satunya, memperlihatkan ponsel itu yang sejak tadi sudah berada di sana. Mariana langsung menarik tangannya dengan cepat, seolah baru sadar betapa jauh ia sudah melangkah tanpa berpikir. “Anda sengaja,” katanya, nadanya setengah kesal, mukanya memerah. Edward terkekeh pelan,
Mariana tidak pernah menyangka satu kesalahan kecil—salah kirim—bisa berujung sejauh ini. Seharusnya video itu untuk suaminya. “Ini yang kamu cari?” Suara Edward rendah, nyaris malas, tapi cukup untuk membuat seluruh tubuh Mariana menegang. Layar ponsel itu menghadap tepat ke arahnya. Dan di sana— dirinya sendiri. Dalam versi yang terlalu terbuka. “Matikan.” Suaranya keluar cepat. Tajam. Tanpa jeda. Edward tidak bergerak. Ia hanya memiringkan layar itu sedikit, seolah memastikan Mariana bisa melihatnya lebih jelas. Senyumnya tipis. Berbahaya. “Kenapa?” katanya ringan. “Sayang kalau dihapus. Kapan lagi bisa lihat kamu… seperti ini.” Darah Mariana langsung naik ke wajah. Entah karena marah. Atau karena hal lain yang tidak ingin ia akui. --- “Edward.” Nada itu berubah. Lebih rendah. Lebih serius. Ia melangkah maju. “Hapus sekarang.” Namun alih-alih menurut, Edward justru mengangkat ponselnya sedikit lebih tinggi. “Kalau mau hapus,” ucapny
Mariana tidak pernah benar-benar menyukai acara networking. Baginya, acara seperti ini selalu terasa melelahkan dengan cara yang tidak terlihat—terlalu banyak basa-basi yang diulang dengan kata-kata berbeda, terlalu banyak senyum yang dipaksakan demi kepentingan, dan terlalu sedikit percakapan yang benar-benar memiliki isi. Namun malam itu, ia tetap datang. Bukan karena ingin, melainkan karena harus. Ada investor besar yang perlu dijaga, relasi lama yang tidak bisa diabaikan, dan kepentingan perusahaan yang jauh lebih penting daripada rasa tidak nyamannya sendiri. Dan, sayangnya— Edward juga ada dalam daftar undangan. Sejak awal, Mariana sudah menyadari keberadaannya. Dari kejauhan, ia melihat pria itu berdiri santai di dekat bar, dikelilingi beberapa orang yang tampak menikmati setiap kata yang keluar darinya. Tawa ringan terdengar sesekali, dan Edward membalasnya dengan ekspresi yang terlalu tenang—seolah situasi seperti itu adalah habitat alaminya. Yang paling men
Beberapa minggu setelah pertemuan di arisan lansia itu, kabar mengejutkan sampai ke telinga Elina. Nenek Carlos, diam-diam, sudah menikah siri dengan Pak Wirya. Bukan di rumah, bukan pula di hotel mewah, melainkan di sebuah masjid kecil di pinggiran kota. Hanya berbekal dua saksi dan seorang peng
Beberapa hari kemudian, diam-diam nenek Carlos mengundang tiga calon duda ke rumah. Elina yang disuruh menyiapkan ruang tamu sampai bingung, karena suasananya seperti audisi. “Ini apa, Nek? Kayak wawancara kerja aja,” bisik Elina sambil menuangkan teh. “Memang!” jawab nenek mantap. “Aku harus
--- Malam itu suasana vila keluarga Argantara masih tegang setelah insiden siang tadi. Elina masih merasakan perih di sudut bibirnya yang pecah, lebam di pipi, dan lengannya yang sakit akibat pukulan Livia. Ia duduk di sofa ruang tengah, memeluk Arthur yang sudah tertidur pulas. Matanya sembab, t
Lantai marmer rumah itu bergema oleh ketukan hak tinggi milik Livia. mamtan istri carlos itu berjalan cepat, aura percaya dirinya begitu kuat, tubuh tegap dengan rambut dikuncir tinggi. Tangannya menggandeng Febby, anak perempuan mungil berusia dua tahun. “Jadi ini anak barunya, ya?” suara Livia







