Saat mendengar bagaimana petugas itu menggambarkan sosok pria yang membayar tagihan rumah sakit ibunya, Kanina tidak bisa membayangkan orang lain selain Althan.Dia langsung teringat kejadian hari itu. Saat Althan membantu membawa ibunya ke rumah sakit. Pria itu tidak langsung pergi, tapi ikut menunggu di depan ruang UGD.Tanpa banyak bicara, tanpa berusaha keras menghiburnya, hanya menyodorkan sebotol air minum, lalu duduk agak jauh di sebelahnya dan mengucapkan beberapa patah kata sederhana. Saat dokter keluar dan mengajaknya bicara di ruangan lain tentang kondisi ibunya, Althan dengan tenang dan sopan menawarkan diri untuk menemaninya.Memikirkan semua itu, jemari Kanina yang memegang lembar tagihan rumah sakit perlahan mengencang. Dadanya dipenuhi perasaan yang sulit dijelaskan.“Apa benar dia?” gumamnya bingung.Sampai sekarang, Althan masih terasa asing baginya. Walaupun sudah sering bertemu, tetapi setiap kali berhadapan dengan pria itu, Kanina selalu merasakan kecanggun
Read more