MasukHari-hari berikutnya berlalu dengan lambat. Terlalu lambat. Seolah waktu sengaja berjalan lebih pelan ketika seseorang sedang menunggu sebuah keajaiban.Setelah menjalani observasi ketat di ruang resusitasi, Artanti akhirnya dipindahkan ke ICU. Namun kepindahan itu tidak membawa kabar yang lebih baik.Wanita tua itu masih belum sadar. Masih terbaring diam di atas ranjang rumah sakit dengan berbagai alat pemantau yang terus bekerja tanpa henti.Setiap hari, dokter datang memeriksa kondisinya. Setiap hari pula Kanina menunggu dengan harapan yang sama.Berharap mendengar kalimat yang berbeda. Berharap seseorang mengatakan bahwa ibunya sudah membuka mata. Atau setidaknya menunjukkan sedikit respons.Namun harapan itu belum juga menjadi kenyataan. Kanina terus menunggu, meski tak bisa selalu berada di samping Artanti.Ruang ICU bukan tempat yang memungkinkannya untuk menemani sang ibu sepanjang waktu. Ada aturan. Ada jadwal kunjungan. Ada batasan yang harus dipatuhi.Jadi, Kanina ti
Udara dingin langsung menyambut Kanina begitu dia melangkah masuk ke dalam ruang resusitasi. Aroma antiseptik yang khas memenuhi indera penciumannya.Ruangan itu terang. Terlalu terang. Lampu putih di langit-langit memantulkan cahaya yang membuat segala sesuatu di dalamnya terlihat pucat dan dingin.Suara monitor terdengar bersahutan dari berbagai arah, membentuk irama mekanis yang membuat suasana terasa semakin menekan.Beberapa pasien lain berada di ranjang yang terpisah oleh tirai-tirai pembatas. Namun perhatian Kanina hanya tertuju pada satu orang—ibunya.Artanti terbaring diam di atas ranjang. Infus terpasang di punggung tangannya. Kabel monitor terhubung ke tubuhnya, sementara alat pemantau di samping ranjang menampilkan garis-garis dan angka yang terus bergerak.Pemandangan itu membuat dada Kanina terasa semakin sesak. Perlahan, dia berjalan mendekat. Kakinya terasa berat. Seolah setiap langkah yang diambil membuat kenyataan semakin jelas.Sampai akhirnya dia berdiri tepa
Saat pintu ruang konsultasi tertutup di belakang mereka, suasana terasa jauh lebih sunyi dibanding hiruk-pikuk di luar.Kanina duduk di kursi yang disediakan di depan meja dokter. Tangannya saling menggenggam begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa takut dan cemas masih membayang di wajahnya, tidak sedikitpun hilang meski dia sudah berusaha keras untuk tidak menangis dan terlihat tenang.Di sampingnya, Althan mengambil tempat tanpa berkata apa-apa. Seolah hanya ingin menemani tanpa ikut campur terlalu jauh.“Sebenarnya apa yang terjadi pada ibu saya, Dok?” Kanina lebih dulu buka suara, bertanya dengan bingung dan khawatir.Dokter menarik napas pelan sebelum membuka hasil pemeriksaan yang baru saja diletakkan seorang perawat muda.“Kami sudah melakukan pemeriksaan awal. Seperti yang saya katakan sebelumnya, pasien mengalami perdarahan otak.”Kanina terdiam. Jantungnya berdegup semakin cepat. Ada firasat buruk yang sejak tadi tumbuh dan menyebar di dalam dadanya.Dok
Kanina tidak tahu sudah berapa lama dia duduk di sana. Waktu seolah kehilangan bentuknya sejak ibunya dibawa masuk ke ruang resusitasi dan pintu tertutup di depan matanya.Jarum jam di dinding terus bergerak. Orang-orang terus berlalu-lalang di koridor. Suara langkah kaki, roda brankar, dan percakapan samar sesekali terdengar dari kejauhan.Namun semua itu seperti berada di dunia lain. Kanina tidak benar-benar mendengar suara-suara di sekitarnya. Tidak benar-benar melihat apapun di sekelilingnya.Pandangannya hanya tertuju pada pintu putih di ujung koridor. Tangannya saling menggenggam erat di atas pangkuan. Dalam hati, dia tak henti berdoa.Sampai tiba-tiba, sebuah botol air mineral muncul di hadapan matanya. Kanina sedikit tersentak. Atensinya perlahan beralih.Dia mendongak dan mendapati Althan berdiri di dekatnya. Pria itu masih mengenakan setelan formal yang sama. Masih tampak rapi. Masih tampak tenang.Barulah saat itu Kanina benar-benar menyadari keberadaan Althan dan men
Di balik salah satu rak bunga, Artanti tergeletak di lantai. Kursi kayu tempat wanita itu duduk sebelumnya telah roboh ke samping.Tubuhnya terbaring diam. Tidak bergerak, dengan mata tertutup rapat dan wajah yang tampak pucat, seolah tak menyisakan warna.Begitu melihat pemandangan itu, Kanina terkejut dan hampir tidak bisa bernapas. Dunia di sekelilingnya mendadak sunyi.Dia terpaku, menatap sosok yang terbaring di lantai dengan mata membelalak. Rasa takut yang luar biasa menghantamnya tanpa ampun.“Ibu!”Seolah baru tersadar, Kanina segera berlari menghampiri. Dia berlutut di samping tubuh Artanti hingga lututnya membentur lantai.“Ibu! Ibu kenapa?” ucapnya panik.Tangannya yang gemetar meraih bahu Artanti dan mengguncangnya dengan lembut. “Ibu... bangun...”Tidak ada jawaban. Artanti tetap diam. Tubuhnya tetap tidak bergerak. Rasa panik semakin menjalar ke seluruh tubuh Kanina.Air matanya mulai jatuh. Dia menyentuh tangan Artanti, lalu mengusap wajah pucat itu sambil ter
Hari-hari berikutnya berlalu dengan tenang bagi Kanina. Begitu tenang sampai terkadang dia merasa semuanya seperti tidak nyata.Tidak ada Harsya yang tiba-tiba muncul di depan toko dan melontarkan tuduhan yang membuat hatinya perih.Tidak ada Ralia yang datang dengan senyum manis palsu sambil menyisipkan kata-kata yang menyakitkan.Tidak ada Sartika yang memandangnya dengan tatapan meremehkan seolah keberadaannya selalu menjadi kesalahan.Tidak ada satu pun di antara orang-orang manipulatif itu yang datang untuk mengganggu, membuat Kanina akhirnya bisa merasa tenang. Hal baik lainnya, toko bunganya semakin hari semakin berkembang. Pelanggan terus bertambah. Pesanan buket semakin banyak.Ada pelanggan lama yang kembali memesan. Ada pelanggan baru yang datang karena rekomendasi orang lain.Kanina menjadi semakin sibuk, namun dia sangat menikmatinya. Karena semua yang dia lakukan sekarang adalah untuk dirinya sendiri dan juga untuk Artanti.Belakangan ini dia bahkan mulai berpik







