Saat Kanina melangkah keluar dari gedung firma hukum, udara siang terasa panas dan lengket, tapi angin sesekali berhembus, membawa sedikit kesejukan. Dia berdiri di trotoar, menarik napas dalam-dalam, seolah mencoba merasakan ketenangan di tengah riuhnya jalanan kota. Pikirannya melayang pada pembicaraan dengan Renata tadi. Surat gugatan sudah siap dikirim. Dua minggu lagi, Harsya akan menerima panggilan resmi dari pengadilan. Hal itu membuat dadanya terasa sesak sekaligus lega—seperti orang yang akhirnya memutuskan untuk melompat dari tebing, tak peduli apa yang ada di bawah. “Semoga, semuanya berjalan lancar,” gumamnya, penuh harap. Dia tahu, Harsya mungkin tidak akan membiarkan proses perceraian mereka berjalan dengan mudah, tetapi dia tidak ingin berhenti berharap. Pada saat ini, matanya menangkap sebuah taksi yang melaju dari kejauhan. Kanina buru-buru melambaikan tangan untuk menghentikannya. “Ke jalan Harmoni, Pak,” ucapnya sambil duduk di kursi penumpang dan
Dernière mise à jour : 2026-02-04 Read More