Suara Harsya jatuh seperti bilah pisau yang tajam, penuh tuntutan dan tekanan yang tak bisa dibantah.Namun, di ujung sana, sebuah jeda mengambil alih, keheningan yang terasa seperti hembusan napas yang tertahan. Baru di detik ke sekian, satu suara akhirnya terdengar—suara lembut dan halus yang sama sekali bukan milik Kanina.“Mas Harsya… maaf, ini Ralia.”Harsya membeku, napasnya tercekat, kata-kata yang hendak keluar langsung tertahan di tenggorokan. Ada riak kecewa yang muncul di matanya saat dia menurunkan ponsel dan mendapati nama lain yang terpampang di layar. Ralia, bukan Kanina. Harsya menarik napas berat. Suaranya hampir tidak terdengar saat berkata, “Maaf, aku pikir Kanina.”“Nggak apa-apa.” Ralia menjawab dengan suara lembut yang sama, seolah tak merasa tersinggung meski salah dikenali.“Ada apa?” tanya Harsya. Di luar dugaan, nada bicaranya terdengar sedikit tidak sabar. Tapi, di seberang sana, Ralia masih bertutur dengan lembut, “Maaf mengganggu malam-malam begini,”
Dernière mise à jour : 2026-02-11 Read More