เข้าสู่ระบบKata-kata pelayan itu jatuh dengan sopan dan hati-hati, tapi berhasil membuat Kanina terpaku saat mendengarnya.
Jari-jarinya yang hendak merogoh dompet langsung terhenti di udara. Dia mendongak, menatap pelayan yang berdiri di sampingnya dan bertanya dengan bingung, “Maaf?” Pelayan itu tersenyum, lalu menunjuk ke arah meja seberang. "Yang membayar adalah pria yang duduk di sana," katanya kemudian. Pandangan Kanina refleks mengikuti arah yang ditunjuk, melintasi ruangan yang dipenuhi aroma makanan dan kopi hangat, lalu berhenti pada sosok di meja seberang. Althan Swargantara masih dengan ketenangan yang sama, duduk sendirian di sana dan menatap lurus ke arahnya dengan sepasang iris kelam. Saat tatapan mereka bertemu, Althan mengangguk pelan, satu anggukan kecil yang mirip sapaan—tanpa senyum, tapi penuh wibawa dan sopan santun yang tertata. Jantung Kanina berdentum keras. Dia langsung berpaling dan bertanya pada pelayan di sampingnya dengan terburu-buru, “Orang itu yang bayar?” “Benar, Kak.” Kanina mengerutkan kening. Wajahnya dipenuhi rasa bingung dan tak percaya. “Setelah kemarin balas dendam, sekarang malah bayar tagihanku?” gumamnya pelan. Dia sama sekali tidak mengerti. Bukankah kemarin pria itu sengaja mengerjainya di kantor pengacara untuk membalas kejadian di restoran pada malam sebelumnya? Sebuah pembalasan kekanak-kanakan yang datang dari orang yang diam saja saat kejadian—seolah tidak peduli, tetapi sebenarnya menyimpan dendam. Kanina pikir, balasan kemarin sudah cukup dan urusan mereka seharusnya sudah selesai. Tapi sekarang, mereka bertemu lagi dan pria itu malah membayar makanannya. Apa maksudnya? Kanina benar-benar merasa bingung. Entah Althan sedang berniat baik atau justru hanya sedang bermain-main. Dia bahkan tidak tahu apakah pertemuan mereka saat ini merupakan suatu kebetulan atau justru disengaja. Mungkin saja, Althan masih belum puas dengan balasan kemarin dan ingin mengerjainya dengan cara yang lebih halus. Berbagai pertanyaan dan praduga memenuhi kepalanya. Kanina memicingkan mata. Tatapannya kini penuh dengan kecurigaan. Saat pelayan pamit dan beranjak pergi, Kanina menarik napas dalam dan bangkit berdiri. Langkahnya terbuka, berayun perlahan menuju meja seberang. Tumit sepatunya mengetuk lantai kayu dengan ritme teratur. Wajahnya terangkat, menunjukkan kepercayaan diri yang entah datang dari mana. Di sana, Althan masih duduk dengan tenang, menatap Kanina yang berjalan ke arahnya dengan ekspresi tak terbaca. "Berapa totalnya?" tanya Kanina begitu sampai. “Biar saya ganti.” Sambil bicara, dia membuka dompetnya, bersiap mengeluarkan uang sesuai nominal yang Althan sebutkan. Apapun tujuan pria itu, Kanina tidak ingin berutang padanya. Lebih daripada itu, dia tidak ingin terlibat urusan dengannya. Namun, Althan tidak langsung menjawab. Matanya hanya menatap sejenak, lalu tangannya bergerak perlahan—menunjuk kursi kosong di seberangnya. Gerakannya halus, namun tegas dan tertata. Tanpa bicara, hanya isyarat yang penuh makna, seolah tahu pihak lain akan mengerti. Tapi, Kanina tetap berdiri. "Saya masih ada urusan. Sebutkan saja berapa totalnya, biar saya ganti.” Althan menurunkan tangannya kembali, melipatnya di atas lutut dengan gerakan yang terukur, seperti patung marmer yang hidup. Bibirnya bergerak tipis, hampir tak terlihat, tapi ada cahaya kecil di matanya yang dilewatkan oleh Kanina. "Bukankah kamu ingin menyewa unit di Asteria Residence?" tanya Althan pelan, suaranya rendah seperti hembusan angin di antara dedaunan musim gugur. Asteria Residence, nama apartemen yang baru saja Kanina datangi. Bangunan tinggi yang masih bisa terlihat dari balik kaca kafe tempat mereka berada sekarang. Ketika Althan menyebutkannya, Kanina terbelalak. Rasa terkejut hampir tidak dapat disembunyikan dari wajahnya saat dia balik bertanya, “Dari mana Anda tahu?” Althan mengangkat sudut bibirnya—gerakan samar yang bahkan tidak sempat tertangkap mata. Dia tidak menjawab, membiarkan pertanyaan itu menggantung. Alis Kanina saling bertautan. Raut wajahnya tampak rumit. Saat dia masih memikirkan dari mana Althan tahu soal ini, ponsel di tangannya tiba-tiba bergetar. Kanina menatap layar, nama Nisha muncul di sana. Dia melirik Althan sekilas, lalu berpaling dan mengangkat panggilan. “Kanina, kamu sudah pulang ke rumah?” Nisha bertanya di seberang telepon, terdengar agak terburu-buru entah karena apa. “Belum, masih di luar.” Kanina menyahut pelan. “Ada apa?” “Barusan, aku dihubungi pengelola apartemen. Katanya, dia akan sibuk sampai beberapa hari ke depan, jadi nggak bisa ketemu kamu,” ucap Nisha. “Tapi, pengelola bilang, pemilik gedung sedang ada waktu dan nggak keberatan menangani urusan sewa. Kebetulan, dia sedang ada di kafe Linden sekarang, nggak jauh dari apartemen.” “Kalau kamu mau cepat-cepat urus sewa, kamu bisa temui dia sekarang. Katanya sih, kalau dengan pemilik gedung, bisa dapat harga lebih murah.” Panjang lebar Nisha bicara, Kanina yang mendengarkan tiba-tiba saja merasakan sesuatu melintas di benaknya. Dia tanpa sadar mencuri pandang ke arah Althan. Pada saat yang sama, dia mendengar Nisha berkata. “Aku nggak tahu pemilik gedung itu siapa dan orangnya seperti apa. Tapi, kata pengelola, namanya... Althan Swargantara.” Begitu kalimat itu jatuh, Kanina sempat membeku. Dia langsung teringat saat Zara menyebut nama pria di depannya ini. Althan... sama seperti yang disebutkan Nisha. Jantung Kanina berdegup kencang, matanya dipenuhi riak ketidakpercayaan. “Jadi dia... pemilik Asteria Residence?” batin Kanina. Sementara hatinya dipenuhi rasa tak menyangka, Althan malah memiringkan kepala dan tersenyum kecil, seolah mengiyakan pertanyaan di benaknya “Kanina?” Suara Nisha terdengar lagi, menyadarkan Kanina dari lamunan. “Kamu dengar aku?” Kanina berdeham pelan, lalu buru-buru menjawab, “Iya.” “Lalu bagaimana? Kamu ada waktu? Kalau bisa, datang saja ke kafe Linden, temui pemilik gedung. Siapa tahu bisa dapat harga lebih murah.” Kanina menarik napas berat, lalu mengangguk samar, “Oke. Terima kasih, Nisha.” Dengan itu, sambungan telepon terputus. Kanina menurunkan ponsel. Tatapannya kembali ke Althan, masih diselimuti kabut ketidakpercayaan yang tebal. Di depannya, pria itu malah dengan santai menunjuk kursi di seberangnya sekali lagi, gerakan yang sama seperti tadi—tenang, elegan dan berwibawa. “Bukankah kamu perlu menemui pemilik Asteria Residence?” tanya Althan, seolah dia sudah tahu apa yang Kanina bicarakan dengan seseorang di telepon. Kanina menghela napas berat. Setelah terdiam selama beberapa saat, dia akhirnya menarik kursi dan duduk tepat di depan Althan. “Jadi, Anda pemiliknya?” Althan mengangguk. “Pengelola bilang, ada yang ingin menyewa salah satu unit, kebetulan itu kamu.” “Kebetulan macam apa?” Kanina hampir menyerukan kalimat itu, namun masih bisa menahannya di dalam hati. Sungguh, Kanina tidak tahu kebetulan macam apa yang sedang terjadi di antara dirinya dan pria di depannya. Mulai dari kejadian di restoran malam itu, bertemu lagi di kantor pengacara siang kemarin, sampai pertemuan tak disangka hari ini. Terlalu banyak kebetulan, sampai-sampai membuat Kanina kebingungan. Anehnya, Althan tidak terlihat bingung seperti dirinya. Entah karena pembawaannya yang tenang dan penuh wibawa, atau karena semua yang terjadi memang sudah ada dalam bayangannya. “Saya dengar, kamu sudah lihat tempatnya. Apa ada yang kurang?” Pertanyaan Althan memecah hening yang sempat mengambil alih. Kanina terdiam sejenak, kebingungannya belum terjawab. Masih ada begitu banyak tanda tanya yang berputar di kepalanya. Tapi, dia tahu, sekarang bukan waktu yang tepat untuk memikirkan semuanya dan menuntut jawaban. Althan sudah membuka pembicaraan yang cukup penting, Kanina tidak punya alasan untuk terus mempertanyakan hal-hal yang masih mengganjal. Jadi, dia memilih mengesampingkan semua itu dan mencoba mengikuti pembicaraan dengan hati-hati. “Iya, saya sudah lihat tempatnya. Nggak ada yang kurang, saya yakin mau tinggal di sana.” Althan menanggapi jawaban yang agak terlambat itu dengan anggukan pelan. Setelahnya, percakapan mereka mengalir dengan ritme yang seimbang. Pembahasan tentang apartemen yang akan ditempati Kanina berakhir dengan penandatanganan kontrak elektronik. Kanina mentransfer uang muka ke rekening Althan saat itu juga. Layar ponselnya menunjukkan notifikasi berhasil. Althan mengecek sekilas, lalu mengangguk. “Oke,” katanya. Kanina tanpa sadar tersenyum—senyuman lega yang membuatnya terlihat jauh lebih lembut. Sebelum bangkit, dia teringat sesuatu. “Oh ya. Total makanan tadi berapa? Saya mau transfer sekalian.” Althan menatapnya singkat, lalu berkata datar, “Sudah termasuk uang muka.” Kanina mengedip. “Sudah termasuk?” “Iya.” Ada jeda kecil. Keheranan sempat menyentuh wajah Kanina, tapi dia hanya bisa memendamnya di dalam hati. Lagipula, dia sudah tidak punya energi untuk memperdebatkan hal-hal seperti ini dengan pria yang menurutnya aneh dan penuh teka-teki. Kanina tidak ingin berlam-lama. Dia segera bangkit berdiri dan berkata dengan hati-hati, “Kalau begitu… terima kasih. Saya pergi dulu.” “Nona Kanina?” Baru berjalan satu langkah, panggilan itu sudah membuatnya berhenti. Kanina menoleh, keningnya berkerut samar. Althan dengan tenang mengeluarkan ponsel, lalu mengulurkannya pada Kanina dan berkata, “Kita belum bertukar nomor ponsel.”Kanina dan Althan berdiri di balik pintu ruang rawat yang terbuka sedikit. Dari tempat itu, mereka dapat melihat pertengkaran yang semakin memanas di dalam ruangan. Suara Sartika dan Ratna saling bersahutan, memenuhi ruang yang seharusnya menjadi tempat pasien seperti Ralia beristirahat dan memulihkan diri. Di tengah semua keributan itu, Ralia hanya mampu menangis di atas ranjang, sementara Harsya masih duduk terpaku di sudut ruangan tanpa mengatakan sepatah kata pun.Kanina memandang pemandangan itu dalam diam. Wajahnya tenang. Tidak ada lagi kemarahan ataupun rasa sakit yang dulu pernah memenuhi hatinya.Namun, jauh di balik ketenangan itu, sorot matanya menyimpan perasaan yang sulit dijelaskan. Dia tidak sedang merasa senang melihat penderitaan orang lain. Sebaliknya, pemandangan itu justru mengingatkannya bahwa kebencian, keserakahan, dan ambisi yang berlebihan pada akhirnya hanya akan melukai semua orang, termasuk diri sendiri.Entah berapa lama Kanina terdiam di sana, s
Ralia terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit. Wajahnya pucat, bibirnya kehilangan warna, sementara infus masih terpasang di punggung tangannya.Beberapa jam sebelumnya, dia baru saja menjalani operasi besar yang hampir merenggut nyawanya. Hal yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya.Padahal, baru dua bulan lalu Ralia dinyatakan hamil. Kehamilan yang sudah lama ditunggu-tunggu itu sempat menjadi kabar yang paling membahagiakan bagi keluarga Danuarta. Sartika yang selama ini terus mendesaknya untuk segera memiliki keturunan bahkan begitu gembira ketika mendengar kabar tersebut.Namun, kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Ralia tiba-tiba mengalami nyeri hebat di bagian perut yang disertai perdarahan. Dia segera dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi yang terus memburuk. Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan darurat, dokter menemukan bahwa kehamilan itu mengalami komplikasi akibat kelainan rahim yang sangat langka. Janin tidak dapat dipertahankan, sementara perdaraha
Tidak butuh waktu lama bagi Althan untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi pada hasil pemeriksaan Kanina dulu.Berdasarkan laporan, dia mendapatkan fakta bahwa memang Sartika lah yang menyuap dokter untuk memalsukan hasil pemeriksaannya.Ketika Kanina mengetahui hal ini, dia hanya bisa terdiam sambil menghela napas panjang. Entah bagaimana menggambarkan perasaannya.Dia tahu, Sartika tidak pernah menyukainya. Wanita itu juga mungkin sudah lama ingin menyingkirkannya dari keluarga Danuarta.Saat Kanina mengalami keguguran untuk kedua kalinya, itu mungkin adalah kesempatan emas yang tidak ingin dilewatkan oleh Sartika.Dia memanfaatkan keadaan, memalsukan hasil pemeriksaannya agar tidak ada lagi alasan bagi Harsya untuk mempertahankannya.Sekarang, setelah mengetahui semua ini, ada perasaan marah dan kecewa di hati Kanina. Namun di sisi lain, dia juga merasa lega.Bagaimanapun juga, apa yang dilakukan Sartika justru membuatnya bisa terlepas dari lingkaran pernikahan yang s
Sudah lebih dari tiga bulan sejak Kanina resmi menyandang nama belakang keluarga Swargantara. Selama waktu itu, kehidupannya bisa dibilang berubah menjadi jauh lebih baik. Dia tidak lagi tinggal di apartemen, melainkan pindah ke rumah pribadi Althan. Tinggal bersama dengan pria itu sambil beradaptasi dan berusaha untuk lebih saling mengenal satu sama lain.Semakin lama, Kanina semakin mengenal sosok Althan yang sebenarnya. Selama ini dia selalu mengira pria itu sangat pendiam. Nyatanya, Althan hanya tidak suka berbicara tanpa tujuan.Di hadapan orang lain, dia tetap terlihat dingin dan acuh tak acuh. Namun saat bersama Kanina, sikapnya jauh lebih hangat dan percakapan kecil bisa mengalir begitu saja.Dia bukan tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis setiap saat. Namun setiap ucapannya selalu mengandung perhatian dan dibarengi dengan tindakan yang nyata.Setiap pagi, Althan selalu mengantar Kanina ke toko bunga sebelum berangkat ke kantor. Sore harinya, tidak peduli sesib
Resepsi pernikahan Althan dan Kanina berlangsung begitu megah. Ballroom hotel dipenuhi rangkaian bunga putih yang menjuntai anggun dari langit-langit.Cahaya lampu kristal memantul lembut pada setiap sudut ruangan, sementara para tamu undangan dari berbagai kalangan silih berganti memberikan ucapan selamat. Di antara mereka hadir tokoh-tokoh penting dunia bisnis, para kolega Grup Swargantara, bahkan beberapa pejabat terkemuka tidak ketinggalan menyaksikan moment bahagia itu.Potret-potret kebahagiaan mereka memenuhi berbagai media sosial. Bahkan beberapa media bisnis ikut memberitakan pernikahan pewaris Grup Swargantara dengan perempuan yang selama ini tak pernah tersorot media. Berbagai artikel bermunculan, disertai foto-foto yang memperlihatkan bagaimana Althan hampir tak pernah melepaskan pandangannya dari sang istri sepanjang acara.Sementara itu, di lantai paling atas sebuah gedung perusahaan, ruang kerja direktur utama terasa sunyi. Harsya duduk sendirian di balik meja ke
Suasana ballroom hotel pagi itu dipenuhi nuansa yang hangat dan khidmat. Langit-langit tinggi dihiasi rangkaian bunga putih, krem, dan sentuhan hijau yang menjuntai anggun. Cahaya matahari menembus dinding-dinding kaca besar di sisi ruangan, memantulkan sinar lembut ke lantai marmer yang berkilau. Di bagian depan ruangan, sebuah pelaminan bernuansa putih gading berdiri sederhana namun elegan. Tidak berlebihan, tetapi menghadirkan ketenangan yang membuat siapa pun yang hadir tanpa sadar merendahkan suara.Lantunan ayat suci Al-Qur’an mengalun pelan melalui pengeras suara, memenuhi seluruh ballroom dengan suasana yang syahdu.Para tamu telah duduk rapi di kursi masing-masing. Sementara di depan meja akad, Althan duduk dengan punggung tegak.Hari itu dia mengenakan beskap muslim berwarna putih gading dengan bordir sederhana di bagian kerah. Sebuah peci hitam terpasang rapi di kepalanya, membuat penampilannya tampak semakin berwibawa. Seperti biasanya, wajahnya terlihat tenan
Renata memperkenalkan diri dengan kata-kata yang mengalir lembut, tapi Kanina yang mendengarnya justru merasa seperti tersengat aliran listrik. Dia terperangah. Alih-alih menerima uluran tangan Renata, dia malah menoleh ke arah Althan dan menatapnya dengan tatapan penuh tanya. “Jadi, Anda bukan.
Sosok familiar yang duduk di kursi kerja itu membawa ingatan Kanina kembali ke kejadian di restoran malam tadi. Tepat saat dirinya tak sengaja menubruk pelayan hingga segelas minuman tumpah ke baju seorang pria yang duduk di dekat sana. Meski hanya melihat sekali, Kanina masih ingat seraut waj
Sebelumnya, Kanina terlalu kalut sampai tidak tahu harus bagaimana menghadapi situasi yang sedang terjadi saat ini. Dia bahkan masih merasa semuanya seperti mimpi buruk yang tiba-tiba datang, terlalu sulit untuk dianggap nyata. Tapi, setelah berbicara langsung dan mendengar setiap kata yang k
Erhan membenahi posisi duduk sambil menatap Althan dalam-dalam, tak sabar mendengar jawaban yang sedari tadi membuatnya penasaran. Namun, saat Althan melanjutkan kalimat, yang terdengar hanya sederet kata yang sama seperti sebelumnya, “Cuma nggak mau ribut.” Bahu Erhan langsung merosot turun.







