Langit yang baru belum sepenuhnya stabil.Bintang-bintang masih belajar memancarkan cahaya. Angin masih memilih arah. Sungai masih ragu apakah harus mengalir atau kembali menjadi hujan.Dan di tengah semesta yang baru belajar bernapas itu, Penulis Sah berdiri seperti seseorang yang tersesat di rumahnya sendiri.Pena hitamnya masih tergeletak di tanah.Ia tidak mengambilnya.Tangannya gemetar.Bukan karena kalah.Bukan karena lemah.Tetapi karena kenangan.Kael menyadarinya lebih dulu.“Dia tidak marah,” bisik Kael pelan.Rynor mengerutkan kening. “Jelas dia marah.”Kael menggeleng. “Tidak. Dia takut.”Dan untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan itu dimulai, Penulis Sah mengangkat wajah dengan ekspresi yang bukan dingin, bukan sombong, bukan otoriter—Melainkan… lelah.Sebelum Ia Menjadi Penulis“Aku tidak selalu seperti ini,” katanya.Suara itu tidak lagi seperti hukum semesta. Suara itu seperti seseorang yang sedang bercerita di ruang kosong.Kael dan Rynor tidak menyela.Karena
Magbasa pa