Dinda menelan ludah, rasa gugup dan takut menyeruak. Dia tahu maksud Pak Bram, dan meskipun perasaan bersalah terus menghantui, dia merasa tak punya pilihan lain. Kehidupannya sudah terperangkap dalam permainan yang dikuasai oleh mertuanya. Tanpa banyak kata, dia mengangguk, mengeluarkan ponselnya, dan mulai mengetik pesan kepada suaminya. "Sayang, aku harus lembur malam ini di rumah sakit. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan. Pulanglah duluan, jangan tunggu aku ya. I love you."Setelah pesan itu terkirim, Dinda menatap layar ponselnya dengan perasaan hampa. Dia tahu betul bahwa ini bukanlah pertama kali dia berbohong kepada Leo, dan itu membuat dadanya semakin sesak. Namun, dia tetap menuruti perintah Pak Bram, yang kini tersenyum puas. "Bagus," ujar Pak Bram, lalu dia mendekati Dinda, membelai rambutnya dengan lembut. "Kita bisa menikmati waktu kita malam ini tanpa gangguan," imbuhnya.Dinda hanya bisa menunduk, menahan perasaan campur aduk yang menguasai dirinya. Dia meras
Terakhir Diperbarui : 2025-07-27 Baca selengkapnya