Di dalam kamar yang remang-remang, Pak Bram menggandeng tangan Dinda dengan lembut, membawanya ke tempat tidur. Mereka duduk berdua di atas kasur, sementara suasana di sekeliling terasa begitu hening. Dinda hanya bisa menatap lurus ke depan, berusaha menyembunyikan kegugupannya, sementara perasaan bersalah terus menyelimutinya.Pak Bram mendekatkan diri, meraih dagu Dinda, dan memutar wajahnya agar mata mereka bertemu. Tatapannya penuh hasrat, tapi di balik itu, ada juga kecenderungan yang lebih dalam, keinginan untuk menguasai. "Dinda," bisiknya dengan lembut, suaranya terdengar penuh perhitungan. "kamu tahu aku sangat menyukaimu. Dari awal aku melihatmu, aku tahu kamu berbeda. Aku ingin kita lebih dari sekadar ini. Aku ingin membuatmu hamil."Ucapan itu kembali menghantam Dinda, kali ini lebih tajam dari sebelumnya. Dia mencoba menahan napas, tapi perasaan terkejut dan takut bercampur aduk dalam pikirannya. "Hamil?" ulangnya, suaranya hampir bergetar.Pak Bram mengangguk sambil
Terakhir Diperbarui : 2025-07-28 Baca selengkapnya