Pagi itu, Leo kembali ke ruang kerjanya di kantor pusat perusahaan milik keluarga Bu Mela. Senyumnya tipis, namun pikirannya sedang berkecamuk. Malam sebelumnya, ia kembali membuka berkas-berkas misterius peninggalan ayah kandung Dinda. Salah satu dokumen mencantumkan nama seorang notaris tua di kota sebelah. Leo mencatatnya dalam hati, ia akan pergi ke sana minggu ini.Namun, belum sempat ia merenung lebih jauh, pintu ruangannya diketuk."Masuk," ucap Leo.Ternyata sekretarisnya yang muncul, wajahnya tegang."Pak Leo… Bu Mela menunggu Anda di ruang rapat lantai tiga. Katanya penting."Leo mendesah dalam hati. Ia tahu betul, setiap panggilan ‘penting’ dari Bu Mela selalu berakhir dengan tekanan emosional.Beberapa menit kemudian, Leo masuk ke ruang rapat. Di sana, Bu Mela sudah duduk dengan gaun merah menyala dan senyum sinis di wajahnya."Kamu terlambat lima menit," ucapnya tanpa basa-basi."Ada pekerjaan yang belum selesai," jawab Leo tenang. Ia duduk di hadapannya, menjaga jarak am
Terakhir Diperbarui : 2025-08-03 Baca selengkapnya