Malam itu, hujan mengguyur ibu kota dengan deras, seolah ikut meratapi nasib Castellvain Group yang berada di ujung tanduk. Di dalam ruang kerjanya yang sunyi, Selina duduk sendirian. Ia sengaja mematikan lampu utama, membiarkan ruangan itu hanya diterangi oleh pendar redup dari layar televisi di dinding. Di layar kaca, wajahnya terpampang jelas di berbagai stasiun berita bisnis. “...Kejatuhan Castellvain Group di depan mata. CEO Muda, Selina, diduga melakukan wanprestasi berat dalam megaproyek bersama Mahesvara Group. Besok pagi, sidang arbiter akan menentukan nasib kepemimpinannya...” Selina mematikan televisi dengan remote di tangannya, lalu bersandar pada kursi kerjanya dengan lelah. Kilatan lampu kilat wartawan yang mengepung lobi gedung tadi sore masih menyisakan pening di kepalanya. Tanpa Zander, malam-malam seperti ini terasa seribu kali lebih dingin. Sementara itu, di sebuah restoran privat bintang lima yang mewah, denting gelas kristal saling beradu. William Castell
더 보기