Langkah kaki Selina berdentang cepat, menggema di sepanjang koridor dingin Rumah Sakit Castellvain. Napasnya memburu, mengabaikan rasa lelah yang menggelayuti tubuhnya setelah rapat yang menguras emosi. Di depan lobi ICU, Lumi langsung berlari menghampirinya dengan wajah sekuning kain kafan. “Selin! Akhirnya kamu sampai!” seru Lumi, mencengkeram kedua lengan Selina dengan panik. “Lumi, bagaimana Aswin? Teleponmu tadi membuatku jantungan!” tanya Selina, dadanya naik turun tak teratur. “Aswin… Aswin sudah sadar, Selin! Tapi dia tidak stabil. Dia mengamuk, berteriak-teriak mencari Tuan Zander,” ucap Lumi dengan suara gemetar. “Aku dan dokter sudah berusaha menenangkannya, tapi dia seperti tidak mau mendengar apa pun. Pikirannya benar-benar kacau!” Selina tertegun, matanya membelalak. “Dia… mencari Mas Zander?” Namun, sebelum Selina sempat melangkah menuju ruang rawat, ia tidak menyadari bahwa di dalam ruangan Aswin, badai yang lebih besar sedang berkecamuk. William Castellvain telah
Read more