Hujan turun lagi, tapi kali ini bukan rintikan lembut melainkan deras seperti orang marah mencurahkan ember air dari langit. Seperti langit pecah. Seperti dunia menangis.Raisa terjebak di gazebo taman kompleks—struktur kayu kecil dengan atap genteng merah yang biasa dipakai ibu-ibu arisan atau anak-anak bermain. Buku yang ia bawa untuk dibaca sudah basah di pinggirnya karena percikan air yang masuk terbawa angin. Halaman-halamannya mengeriting."Nasib sial!" gerutnya, menyelipkan buku ke dalam tas dengan gerakan frustasi.Dari kejauhan, melalui tirai hujan yang tebal, ia melihat sosok berlari menuju gazebo. Tinggi, rambut ikal yang basah, kaos yang menempel di tubuh karena air.Aldo.Dengan payung kecil warna biru yang tak berguna menghadapi hujan sebesar ini. Payung itu terbolak-balik oleh angin, hampir rusak. Ia masuk ke dalam gazebo dengan napas tersengal, mengibaskan air dari rambutnya seperti anjing basah. Tetesan air beterbangan ke segala arah."Payungnya kayak mainan anak," kom
Last Updated : 2025-06-15 Read more