Alana membuka pintu penthouse perlahan, membiarkan Brian masuk lebih dulu. Ruangan itu hening, hanya ditemani cahaya sore yang menerobos melalui kaca jendela besar, memantulkan kehangatan emas di dinding marmer.“Yaudah, kamu langsung rebahan di kamar ya, Istirahat biar cepat pulih,” kata Alana dengan nada lembut, setengah menegur.Tapi Brian menggeleng, senyumnya tipis. “Tunggu, Bisa nggak kita … duduk aja di ruang tengah sebentar?” suaranya memohon tulus. “Kalau dipikir-pikir … kita belum pernah benar-benar melakukannya. cuma duduk bersebelahan. Saling menghargai keberadaan satu sama lain, tanpa ada tuntutan, tanpa ada konflik.”Alana terdiam sesaat. Kata-kata itu menusuknya dengan cara yang aneh, seolah ada kesungguhan mendalam di baliknya. Ia lalu mengangguk pelan. “Apan sih, Brian? Tapi yaudah, ayo duduk,” katanya.Mereka berjalan bersama ke ruang tengah. Brian bergerak pelan, masih tampak lemah, tetapi matanya memancarkan sesuatu, bukan sekadar rasa sakit, melainkan nostalgia.I
Last Updated : 2025-09-24 Read more