“Kamu nggak salah kok, Rain,” ucap Martha lirih. Ia menunduk, suaranya penuh penyesalan. “Mama yang salah.” Napasnya bergetar. “Karena selalu mengungkit masa lalu kamu, menghina kamu, dan kadang-kadang Mama juga menghina Gendis,” lanjutnya dengan suara patah. “Menyakiti perasaan dia… padahal dia baik sama Mama,” ucapnya lirih, air mata kembali jatuh tanpa bisa ditahan. “Apa…” Martha mengangkat wajahnya perlahan, matanya basah dan penuh harap. “Dia maafin Mama, Rain?” tanyanya pelan, takut mendengar jawabannya sendiri. “Gendis pasti sudah lama banget maafin Mama kok,” jawab Rain lembut. Senyum tipis terukir di wajahnya. “Karena dia sayang sama Mama,” lanjutnya tenang, seolah meyakinkan bukan hanya ibunya—tapi juga dirinya sendiri. “Terima kasih ya, Rain…” ucap Martha pelan. Suaranya penuh kelegaan yang bercampur haru. “Untuk?” tanya Rain sambil tersenyum lembut, menatap ibunya dengan sabar. “Sudah baik sama Mama,” lanjut Martha dengan suara bergetar. “Sudah mau jadi anak Mama
Last Updated : 2026-01-23 Read more