“Kami ke sini,” ujarnya dingin, “bukan untuk mengancam, sekali lagi, Om. Kami ke sini untuk memastikan… Om paham konsekuensinya.” Tatapan Rain dan Cipta sama-sama lurus, tak bergeming—seperti dua palu yang siap dijatuhkan. Dermawan terdiam. Ia menarik napas dalam-dalam, dadanya naik turun perlahan. Tatapannya tak lepas dari Rain—tajam, berat, dan penuh perhitungan. Istrinya yang sejak tadi menahan diri akhirnya tak sanggup lagi. Dengan langkah ragu, ia mendekat ke ruang tengah. Jemarinya bergetar saat menggenggam ujung cardigan. “Ada apa, Rain? Pa?” tanyanya lirih, suaranya nyaris pecah. Dermawan tetap membisu. Ia hanya menatap lurus ke depan, seolah ruangan itu membeku. “Rain, ada apa sebenarnya?” ulang sang istri, kini menatap Rain penuh kebingungan. Rain berdiri perlahan. Senyum tipis tersungging di sudut bibirnya—bukan ramah, melainkan tenang dan final. “Sebaiknya Tante mulai bersiap,” ucap Rain datar. “Carilah tempat yang aman. Jauh dari orang-orang yang sakit… da
Última actualización : 2026-01-20 Leer más