“Belum datang, Sayang?” tanya Gendis melalui sambungan telepon malam itu. Suaranya terdengar lembut, tapi jelas menyimpan rasa ingin tahu. “Belum…,” jawab Rain santai. Ia tersenyum kecil sambil duduk tenang, jemarinya menyentuh gelas berisi air lemon di hadapannya. “Dan dia juga belum jawab telepon, Sayang,” lanjutnya ringan. Suasana kafe-restoran malam itu cukup ramai. Beberapa meja diisi keluarga kecil yang tengah menikmati makan malam, tawa anak-anak sesekali terdengar, bercampur dengan alunan musik lembut yang mengisi ruangan. “Jangan genit, ya…,” ucap Gendis kemudian, nadanya setengah bercanda, setengah mengingatkan, mengingat suaminya duduk sendiri di tempat umum malam itu. Rain terkekeh pelan. Senyumnya mengembang, jelas menikmati kecemburuan kecil istrinya, sebelum kembali meneguk air lemonnya dengan tenang. “Nggak genit, Sayang…,” ucap Rain sambil tersenyum. Nada suaranya santai, menenangkan. “Kalau Rangga nggak datang juga, pulang aja deh, Sayang…,” ucap Gendis m
Last Updated : 2026-01-31 Read more