Masuk“Oya, Tante... Semalam gimana tidurnya?” tanya Rangga dengan nada santai, seolah-olah ini hanyalah kunjungan keponakan biasa kepada tantenya. Ia menyandarkan punggung, berusaha menciptakan suasana yang tidak intimidatif agar Martha merasa nyaman untuk bercerita. “Semalam Tante nyenyak banget tidurnya. Dan kamu tahu? Semalam suami Tante—Papanya Rain—datang ke rutan, lho...” ucap Martha sembari menatap ke arah jendela, matanya menerawang membayangkan kembali setiap detik kejadian indah yang ia yakini benar-benar terjadi semalam. Senyumnya melebar, jenis senyum yang hanya muncul dari kebahagiaan yang sangat dalam. “Oh, ya? Wah... Pasti Tante senang banget, dong!” sahut Rangga dengan nada antusias yang sengaja dibuat-buat. Di balik topeng antusiasme itu, jantungnya berdenyut lebih cepat; ia sedang melakukan teknik validation therapy untuk melihat sejauh mana delusi ini mengakar. “Iya, dong... Tante senang banget. Soalnya Papa Rain kelihatan sehat banget. Dia juga bilang mau bebasin
“Dasar iri. Maklum, Pa, mereka itu kan memang hidupnya di bawah garis kemiskinan. Maklumlah. Jadi, Papa rindu sama Mama?” tanya Martha sembari tersenyum genit, menatap nanar ke arah udara kosong yang ia yakini sebagai sosok Brawijaya. Ani, yang mendengar ucapan itu dari balik selimut, hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat. Jantungnya berdegup kencang karena ngeri; mendengar Martha merayu seseorang yang tidak ada di sana adalah pemandangan paling mencekam yang pernah ia alami selama di penjara. “Tolong bilangin sama Rain, Pa. Dia jahat sama Mama. Mama dipenjara karena dia,” ucap Martha kepada sang suami malam itu, suaranya bergetar antara kebencian dan kebutuhan akan pembelaan. Sementara itu, Ani mencoba menutup telinganya rapat-rapat, merapatkan selimut hingga ke kepala karena tak ingin ikut menjadi ‘gila’ hanya dengan mendengar percakapan satu arah yang mengerikan itu. Tak lama, Diah, penghuni sel lainnya, terbangun. Ia mengusap wajahnya pelan, merasa kerongkongannya kering da
Pukul satu malam, keheningan mencekam menyelimuti lorong sel tempat Martha ditahan. Di luar sana, hanya terdengar suara sayup dari penghuni lain yang masih terjaga, mungkin tengah meratapi nasib atau sekadar menatap jeruji besi. Suara langkah sepatu para sipir dan derit pintu besi sesekali memecah sunyi, menandakan aktivitas administratif yang tak pernah berhenti 24 jam penuh. “Duh... dingin banget,” gumam Martha sembari menarik selimut tebalnya. Selimut dengan merek ternama itu—satu dari sedikit kemewahan yang diizinkan masuk—selalu ia gunakan untuk membungkus dirinya dari dinginnya lantai semen. “Ma,” Tiba-tiba, sebuah suara bariton menyusup ke dalam rungu Martha. Ia merasa sangat tidak asing dengan panggilan itu. Seketika, Martha membuka matanya, menatap ke arah langit-langit sel yang hanya diterangi lampu temaram kekuningan. “Siapa ya?” ucapnya pelan. Jantungnya mulai berdegup tidak beraturan. Ia menoleh ke sisi kanan, menatap sudut ruangan yang kosong. “Mama, ayo keluar
Usai makan malam yang penuh kehangatan sekaligus ketegangan rahasia, mereka akhirnya memutuskan untuk berpisah di lobi restoran. “Mbak, ini buat Mbak dari aku. Terima ya, Mbak...” ucap Gendis sembari menyerahkan kantong kertas elegan berisi sepasang jam tangan mewah untuk Wanda dan Cipta sebagai kado perpisahan sebelum mereka bertolak ke Surabaya. “Astaga, Gendis? Ini mahal, lho. Kamu tuh sering banget kasih Mbak barang,” ucap Wanda dengan mata berkaca-kaca, tersenyum penuh haru menerima pemberian adik iparnya tersebut. “Enggak juga, kok, Mbak. Aku suka kasih barang sama Mbak karena Mbak selalu menghargai pemberian aku. Terbukti, malam ini pakai tas hadiah ulang tahun dari aku, tuh...” sahut Gendis sembari melirik tas cantik yang tersampit di bahu Wanda. “Jelas, dong... Cara kita menghargai pemberian orang terkasih ya dipakai, bukan dipajang aja di lemari. Tapi... sekali lagi terima kasih, ya. Ini kado terindah yang terlalu sering Mbak terima dari orang kesayangan sebelum kita
“Persiapan udah 100%?” tanya Rain pada Cipta saat mereka berempat duduk di kursi yang telah mereka pesan sebelumnya. “Ah... udah melebihi malah. Biasa... Mbak kamu ini, bawaannya paling banyak, overload. Jelas harus bayar bagasi lebih nanti di pesawat,” ucap Cipta sambil tertawa kecil menatap Wanda yang ada di sisinya. “Yah... bakal jauh deh. Walaupun bisa ke sana pakai mobil, tetap aja berasa jauh. Jadi kangennya bakal berasa banget sama kalian,” ucap Gendis pada Wanda dan Cipta dengan nada sedikit sedih. “Tenang aja, kita usahakan waktu buat ketemu sebulan sekali aja, lumayan kan?” sahut Wanda mencoba menghibur adik iparnya itu. “Dan... kami berdua pasti doain Mama terus dari sana dan titip salam untuk Mama juga. Karena besok udah harus berangkat pesawat pagi,” tambah Cipta. “Tenang aja, Mama di tangan yang tepat,” ucap Rain sambil tertawa pelan dan merangkul pundak Gendis, berusaha menutupi sedikit kegelisahan yang tadi sempat ia bahas bersama istrinya di mobil. Makanan
“Ngobrol apa sama Yuni?” tanya Rain malam itu. Ia tampak sedang mengenakan celana boxer di depan cermin, sementara Gendis baru saja akan mengenakan bra. “Nah, itu dia yang mau aku ceritain ke kamu, Mas,” ucap Gendis sembari menoleh. Rain pun mendekat, membantu mengaitkan bra itu perlahan dengan gerakan yang penuh perhatian. “Yuni tanya ke aku soal kondisi Mama. Aku bilang Mama banyak perubahan, dia baik-baik aja, sehat juga; pokoknya aku cerita aja seperti yang aku lihat tadi siang. Terus dia cerita kayak ragu gitu sama kondisi Mama yang berubah tiba-tiba, karena habis nonton soal berita kesehatan gitu, pas lagi bahas mengenai DHD,” jelas Gendis serius. Rain terhenti sejenak, tangannya masih berada di bahu Gendis. Istilah DHD atau gangguan delusi itu seolah menyentuh saraf sensitif di kepalanya. Ia tahu Yuni bukan tipe orang yang suka mengarang cerita, dan kecurigaan itu kini mulai merayap masuk ke dalam benak Rain sendiri. “Jadi... dengan kata lain, Mama tadi siang cuma...” R







