"Ya, sangat indah," jawab Isabella, menatap lurus ke mata Valentina. "Dan beberapa hal yang indah hanya bisa dinikmati dari kejauhan. Terlalu dekat, justru akan merusaknya." Valentina tertawa, suara seraknya seperti gemerisik daun kering. "Atau, beberapa hal yang indah perlu diambil sebelum orang lain menyadari nilainya. Aku bukan tipe wanita yang menunggu, Isabella. Aku berjuang untuk apa yang kuinginkan." "Begitu juga aku, Valentina," balas Isabella dengan tenang, namun mata birunya memancarkan ketegangan baja. "Bedanya, aku berjuang untuk melindungi apa yang sudah menjadi milikku, bukan merebut apa yang bukan hakku." Pertukaran tatapan di antara mereka penuh dengan percikan api yang tak terucapkan. Perang dingin di antara dua wanita itu telah dinyatakan secara resmi. Malam itu, saat mereka berdua akhirnya sendirian di kamar mereka yang sederhana namun nyaman, Isabella tidak bisa lagi menahannya. Dia berdiri di dekat jendela, memandang bulan purnama yang menggantung di atas kebu
Read more