Dari sepanjang meja makan yang berjejer rapi, hanya dua kursi yang terisi malam itu—Ava, dan ibunya, Isla Haidi. Ruangan itu terlalu luas, terlalu sepi, terlalu hening untuk ukuran keluarga Abram yang biasanya ramai.Tidak ada suara kecuali denting sendok yang sesekali beradu dengan piring.Aditya dan Aria belum pulang untuk makan malam.Kakek Abram dan Gustav masih berkutat di kantor, mengejar waktu yang telah diberikan klien—waktu yang mereka hanya dapatkan berkat satu orang.Ava meletakkan sendoknya, napasnya seperti menahan kekaguman yang sejak tadi memenuhi dadanya. “Ibu … aku tidak habis pikir. Kalau bukan karena Aditya, perusahaan kita benar-benar tamat hari ini.”Isla mengangguk pelan, gerakannya anggun seperti biasa. “Dia memang anak yang luar biasa. Kakek dan Ayahmu saja hampir tidak bisa mengatasi, tapi Aditya, yang tidak pernah tahu seluk beluk perusahaan kita, bisa langsung menganalisisnya dengan cepat.”Ava menyandarkan dagunya ke punggung tangan, matanya berbinar dengan
Last Updated : 2025-11-25 Read more