“Maksud suami Yessa tadi apa, Fik?” tanya Braga saat mereka dalam perjalanan pulang, menaiki motor Braga meninggalkan mansion besar Isandro. Braga melirik ke kaca spion motornya, di mana sejak tadi Fika diam dan tak mengeluarkan suara. Ia semakin yakin, kalau Fika pernah mencoba menjadi orang ketiga di pernikahan Yessa. “Saya rasa, suaminya Yessa tidak akan bicara seperti itu kalau kamu gak ada masalah sebelumnya,” ucap Braga sambil tetap fokus mengendarai motornya, matanya lurus ke depan. “Apa sih, Mas, dari tadi ngomong mulu,” Fika mendengus kesal. “Coba diem, deh.” Braga menarik napas panjang, lalu menghela perlahan. “Fik, dengerin saya sebentar. Ini bukan soal kamu kesel atau nggaknya.” Motor melambat sesaat sebelum kembali melaju stabil. “Kamu sadar, gak? Dari tadi sikap kamu ke Yessa itu, udah kebablasan.” “Aku cuma bercanda,” sanggah Fika cepat. “Bercanda yang nusuk,” potong Braga tenang, tapi tegas. “Dia lagi hamil, Fik. Punya keluarga, punya suami yang jelas-jel
Last Updated : 2025-12-26 Read more