“Tante Fika?” seru Arby kaget, namun mata polos itu berbinar antusias. “Yeay ... tante Fika datang,” ia berjingkrak heboh di teras rumah. Fika tersenyum lebar melihat tingkah Arby, lalu beralih pada Yessy di gendongan Isandro. “Saya datang ke sini karena kangen banget sama Yessy, Mas. Tapi, sepertinya lagi tidur, ya?” ucap Fika pada Isandro, seolah tak ada Yessa di sana—bahkan tak menyapa sedikitpun. “Iya, karena Yessy sedang tidak bisa ditemui ... alangkah baiknya kamu datang lain kali saja. Lagipula malam sudah larut, dan waktunya untuk istirahat,” balas Isandro, suaranya dingin. Fika menelan ludahnya berat, berusaha tersenyum meski sebenarnya dadanya sedang berkecamuk. Akhirnya dia menatap Yessa. “Yess, apa aku bisa nginep di sini malam ini? Udah larut, gak enak pulang sendirian,” ucap Fika dengan nada lembut—terlalu lembut, bahkan. Berharap bisa menarik empati Yessa. Yessa membuka mulut hendak menjawab, namun suara bariton Isandro terdengar lebih dulu, tegas dan dingin.
Last Updated : 2025-12-21 Read more