“Apih,” celoteh Arsy pada sang ibu. Aurora mengernyit, “Api apaan sih, Nak?” tanyanya bingung. “Apih, Apih,” Arsy berceloteh lagi, namun celotehannya sama sekali tak dipahami oleh Aurora. “Arby,” Luke menyahut dari ambang pintu kamar, ketika dia masuk sambil membawa potongan buah-buahan di atas piring porselen putih. “Dia kangen kakaknya itu,” lanjutnya. Pria itu kemudian duduk di tepi ranjang, tepat di sebelah Aurora. “Mau buah?” Aurora segera menggeleng, “Aku mau telepon Arby aja, biar vidio call sama adeknya.” Ia melirik piring di tangan Luke, “Simpen dulu piringnya, aku mau nelepon Mala.” Luke menghela napas ringan, meletakkan piring itu ke atas nakas sebelum mengambil alih Arsy dari pangkuan Aurora. Aurora begitu antusias menekan nomor Mala. Nada hubung terdengar, sementara dia sudah tak sabar panggilan itu dijawab dan dia bisa bertemu Isandro walau hanya lewat telepon. “Ih, Mala lama banget sih angkatnya,” cetus Aurora dingin, menatap layar ponselnya dengan raut
Last Updated : 2025-12-30 Read more