“Ngapain kamu ke sini?” tanya Isandro dengan nada dingin yang menusuk. Fika menghela napas panjang, mencoba tetap tenang saat ditodongkan dengan sikap dingin pria di hadapannya tersebut. “Kebetulan saya tadi dari psikolog, dan ... mau pulang juga. Tapi, boleh gak, sekalian ikut Mas Isa. Saya mau ke mansion, kangen sama Yessy dan Arby,” ucap Fika hati-hati. Isandro menyipitkan matanya, lalu menyeringai tipis. “Tapi saya tidak pulang ke rumah sekarang. Saya mau ke rumah orang tua saya.” “Kalau kamu memang mau ke mansion saya, silakan. Ada banyak taksi dan ojek online, kamu bisa memesannya lewat aplikasi,” balas Isandro beralibi. “Oh gitu ya, Mas? Tapi—“ “Saya buru-buru, permisi,” potong Isandro cepat, segera melewati Fika tanpa menoleh lagi. Kedua tangan Fika mengepal erat di samping tubuhnya. Dia merasa kalau Isandro sengaja, dan mencoba menghindar darinya. “Ini pasti karena Yessa,” desisnya pelan. “Kamu gak sadar diri apa, Yes? Kamu kan hasil ngerebut dari orang lain, harusnya
Last Updated : 2025-12-20 Read more