“Aku juga, Mas. Aku bakal lindungin kamu, sekalipun taruhannya nyawa aku sendiri. Kalau kamu pergi, aku takut gak sanggup,” bisik Yessa lirih. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. Isandro menghela napas panjang. Tangannya terulur, ibu jarinya menghapus air mata itu satu per satu dengan gerakan yang sangat hati-hati. “Aku pernah kehilangan kamu,” ucapnya tenang, namun suaranya berat, “Dan aku gak akan pernah mau kehilangan kamu lagi untuk kedua kalinya. Pernah kehilangan, bukan berarti aku sanggup kehilangan lagi.” Yessa terisak kecil. “Entah udah berapa kali aku bilang ke kamu,” lanjut Isandro, sorot matanya mengeras oleh luka lama yang belum sepenuhnya sembuh, “Hari itu aku hampir gila.” Ia menelan ludah, dadanya naik turun. “Aku koma karena kecelakaan itu. Dan waktu aku sadar, kenyataan kalau kamu pergi dari hidup aku, itu menghantam aku untuk kedua kalinya.” Jarinya mengerat di pinggang Yessa. “Aku depresi, Yessa. Bukan cuma karena kamu pergi,” suaranya merendah, hampir be
Last Updated : 2026-01-06 Read more