Clarissa terpaku. Bibirnya masih terasa hangat ketika Leo akhirnya menarik diri, napas mereka beradu di jarak yang nyaris tidak ada. Jantungnya berdentum keras, bukan hanya karena kecupan itu, melainkan karena cara Leo menatapnya, seolah ia adalah satu-satunya hal yang nyata di dunia yang penuh ancaman."Leo…" suaranya lirih, nyaris tenggelam oleh degup jantungnya sendiri.Leo tidak menjawab. Ia menurunkan tangannya dari dinding, lalu mengusap tengkuk Clarissa secara perlahan, menenangkan, namun tetap mengikat. Bukan sentuhan yang menuntut, namun sentuhan yang mengklaim. Ia menempelkan dahinya ke dahi Clarissa, mata mereka saling mengunci."Aku tidak akan melangkah lebih jauh malam ini," ucapnya rendah, terkendali. "Bukan karena aku tidak mau. Tapi karena aku ingin kau tetap memilihku… dengan kesadaranmu."Kata-kata itu menghantam Clarissa lebih keras daripada kecupan barusan. Ia menelan ludah, mencoba menata napasnya. Ada bagian dalam dirinya yang lega, namun ada juga yang kecewa, p
Terakhir Diperbarui : 2026-01-01 Baca selengkapnya