Clarissa baru sadar satu hal sejak beberapa hari terakhir ini. Dunianya… semakin mengecil.Bukan karena ia kehilangan kebebasan sepenuhnya, tapi karena semua jalan tanpa ia sadari, selalu berujung pada Leo.Pagi itu, Clarissa berdiri di depan cermin kamar, merapikan rambutnya yang masih setengah basah. Ia mengenakan gaun sederhana, warna krem, panjangnya selutut. Tidak berlebihan. Tidak mencolok.Namun Leo, yang bersandar di ambang pintu sambil menyilangkan tangan, menatapnya terlalu lama."Ganti," ucapnya singkat.Clarissa menoleh. "Kenapa?""Terlalu terbuka."Clarissa menurunkan pandangan ke pakaiannya sendiri, lalu kembali menatap Leo dengan alis terangkat. "Ini biasa aja, Leo."Leo melangkah mendekat. Jarak mereka tinggal satu napas. Tangannya terangkat, menyentuh lengan Clarissa, ibu jarinya mengusap pelan, gerakan kecil, tapi cukup bikin jantung Clarissa bergetar."Buat kamu, mungkin," katanya rendah. "Buat orang lain, enggak."Nada suaranya bukan marah. Bukan juga lembut sepen
Last Updated : 2026-01-16 Read more