Pagi hari di apartemen Zira terasa dingin, tidak sehangat sinar matahari yang menembus jendela. Zira, meskipun secara fisik duduk di meja makan dengan kopi di depannya, pikirannya jauh, masih terobsesi pada harapan yang tak kunjung terwujud: mendamaikan Ayahnya, Rayhan, dan Ibu Kandungnya, Livia. Alesha adalah simbol kegagalan harapan itu, sebuah batu sandungan yang kini ia yakini sudah tersingkir.Revan, kekasihnya, seorang alumni Fakultas Ekonomi yang rasional dan praktis, tahu betul bahwa Zira sedang membuang energi pada delusi yang berbahaya. Ia telah mengamati pola ini selama berminggu-minggu dan memutuskan bahwa saatnya telah tiba untuk intervensi yang keras, namun berdasarkan logika yang Zira pahami."Kamu terlihat tegang, Zira. Kita sudah merencanakan akhir pekan. Tapi kamu masih terperangkap dalam delusi masa lalu," Revan membuka suara, nadanya penuh ketegasan yang lembut.Zira mendengus, mengaduk kopinya dengan kesal. "Aku hanya ... merasa kosong, Van. Aku mencintai Papa
Last Updated : 2025-12-18 Read more