“Van ... Cepat ... lebih cepat ....” Zira memohon, kepalanya bergerak ke kanan dan kiri, matanya terpejam, sepenuhnya tenggelam dalam sensasi. Rasa sakit emosional yang ia bawa dari rumah sakit kini benar-benar hilang, tergantikan oleh sensasi manis yang menyakitkan ini.Revan menjawab permintaannya, ritmenya kini cepat dan tanpa ampun. Setiap dorongan adalah pelepasan, pelepasan kegagalan, pelepasan frustrasi, pelepasan rasa takut. Mereka bergerak dalam satu kesatuan, dua jiwa yang saling mencari kepastian di tengah badai.Dialog mereka kini hanya terdiri dari erangan, rintihan, dan desahan.“Ahhh! Zira ... Kamu ... Ah ....”“Ohhh ... Revan ... Aku ... Aku mau ....”“Ya, Sayang ... Bersama ... Lihat aku ....”Revan menahan wajah Zira dengan satu tangan, memaksa mata Zira yang berkaca-kaca untuk menatap matanya. Di sana, di mata Revan, Zira melihat pantulan hasratnya, pantulan cintanya, dan yang paling penting, pantulan rasa aman.Gelombang pertama menghantam Zira, tiba-tiba dan luar
Last Updated : 2026-01-04 Read more