Alesha berbaring di tempat tidur, memejamkan mata. Ia bukan tidur, tetapi menunggu. Ia merasakan Rayhan duduk kaku di sampingnya, ketegangan yang sama, rasa takut yang dingin, memenuhi udara kamar yang seharusnya terasa hangat. Rayhan meraih tangan Alesha, dan sentuhan itu dingin, penuh ketakutan akan masa depan. Alesha menarik tangan Rayhan, memaksanya untuk berbaring di sampingnya, memaksanya untuk berbagi beban yang ia pikul sendiri."Aku takut, Om," bisik Alesha, menyandarkan wajahnya ke dada telanjang Rayhan. "Aku takut Papa akan menangkap kita. Dia akan membatalkan semuanya.""Dia tidak akan bisa, Sayang. Kita sudah punya rencana matang," jawab Rayhan, tetapi suaranya parau, jauh dari keyakinan yang ia tunjukkan pada Alesha siang tadi. Kekhawatiran itu, ketakutan akan pencabutan gelar Rayhan, ancaman kehilangan janin yang berharga, semua bercampur aduk dengan cinta tak terbatas yang mereka rasakan. Malam ini, mereka tidak mencari kesenangan, mereka mencari validasi, mencari b
Read more