Sentuhan itu perlahan berubah. Revan membalikkan tubuh Zira, menatapnya, dan menghapus air mata di pipinya. Ia mencium Zira, ciuman awal yang lembut, seperti air yang mengalir menenangkan, membiarkan bibir mereka saling menjelajah tanpa menuntut apa pun, sekadar berbagi nafas. Ciuman itu adalah janji, bukan gairah.Namun, ketegangan yang terakumulasi di dalam diri Zira, rasa takut akan kehancuran Ayahnya, dan konflik batinnya yang rumit, menuntut pelepasan yang lebih kuat. Ciuman itu segera menjadi liar, didorong oleh kebutuhan emosional. Zira menarik Revan lebih dekat, tubuh mereka menempel, seolah mencoba menyatu dan mengabaikan dunia yang mengancam di luar jendela. Napas mereka berpadu, terengah-engah dan panas, pelepasan dari semua tekanan.Revan merespons dengan intensitas yang sama. Ia tahu, ini bukan hanya hasrat fisik, ini adalah teriakan jiwa Zira yang meminta kebebasan dan perlindungan. Zira menciumnya dengan kasar, menuntut, ia meremas kemeja Revan dengan kuat, menarikny
Last Updated : 2026-01-06 Read more