“Cerai?” ulang Rava, suaranya terdengar cukup santai, tanpa keterkejutan sedikitpun.Lisa memberi anggukan sebagai jawaban. “Ya sudah, kita cerai. Kalau itu maumu,” sambung Rava yang kemudian berlalu ke kamar, meninggalkan Lisa yang hanya menghela napas berat karena persetujuan cerai darinya. “Dasar pria tak tahu diri. Dia pikir, dia sudah hebat? Lihat saja nanti, aku akan buat kamu menyesal, Rava!” Lisa meraih ponselnya dan langsung mendial nomor Brayan. Ia tidak mau tahu, apakah Brayan akan mengangkat panggilan teleponnya atau tidak. Yang jelas, saat ini, dia benar-benar ingin pisah dari Rava. Lagi pula, dia sudah dapat apa yang selama ini ia inginkan, bukan. Rumah, tabungan, dan beberapa aset lainnya. Anggap saja menjadi janda adalah konsekuensi untuk menjadi kaya raya. *** Dering ponsel mengalihkan fokus Brayan dari gadis bernama Keira itu. Ia lalu menatap layar benda pipih tersebut dan menghela napas berat. “Lisa? Ada apa dia meneleponku?” tanya Brayan pada diri sendiri. I
Magbasa pa