Brayan terpaku di tempatnya berdiri, seolah pasokan udara di dalam ruangan itu mendadak menguap habis. Pandangannya beralih perlahan dari suster di ambang pintu kembali ke arah perempuan yang terbaring di atas bangsal.Bisu?Perempuan itu masih menatapnya Brayan. Lalu tak lama kemudian tangan kanannya terangkat, jemarinya bergerak cepat mempraktikkan beberapa gerakan bahasa isyarat yang tidak dipahami oleh Brayan, lalu berakhir dengan menyentuh dadanya sendiri dan mengarahkannya pada Brayan dengan gestur menunduk santai.“Dia tuna wicara sejak lahir, Pak, tapi dia bisa mendengar apa yang kita bicarakan dengan baik. Atau istilah medisnya, mutisme,” tambah suster seraya melangkah mendekat untuk memeriksa kantung infus. “Kami tahu dari kartu identitas yang ada di sistem rumah sakit. Dia pernah beberapa kali ke rumah sakit ini. Namanya Keira.”“Keira …,” bisik Brayan lirih. Nama itu meluncur dari bibirnya dengan getaran yang amat halus, seperti bisikan tak percaya.Struktur wajah yang
Read more