“Kepercayaan macam apa yang kau inginkan? Dukungan apa yang kau harapkan, hm? Kau jelas tahu bahwa aku sangat percaya padamu dulu, dan berakhir aku berada di dalam neraka. Kau jelas tahu bahwa dulu aku selalu mendukungmu, tapi berujung aku masuk dalam siksaan. Sekarang setelah aku telah menata hidup, kenapa harus aku percaya lagi dan mendukungmu lagi? Oh, come on, aku tidak seidiot itu,” jawab Adeline dengan nada tenang, tapi penuh sindiran yang luar biasa sarkas.Lagi-lagi Asher membisu. Kata-kata Adeline menampar kesadarannya tepat di wajah. Gelenyar rasa bersalah yang teramat dalam mendadak menelusup, meremukkan pertahanan dirinya. Apalagi saat mendengar mantan istrinya menyuarakan kepedihan masa lalu secara gamblang.“Asher, kalau kau menganggap menyingkirkan Raphael bisa membuatmu bahagia, kau salah besar. Kau malah membuatku sangat membencimu,” sambung Adeline dengan napas memburu. “Ini bukan tentang Raphael popular, tapi ini tentang kau mengambil keputusan gila!”“Aku berhak me
اقرأ المزيد