Pagi yang cerah, di Kediaman Qin masih dipenuhi aroma sup ayam hangat ketika Qin Yuze tiba-tiba muncul di ambang pintu ruang makan dengan mantel setengah terpakai dan rambut sedikit berantakan.“Aku terlambat,” ujarnya sambil mengambil map tebal di meja.“Sarapan dulu, Sayang,” ucap Anli refleks.“Tidak sempat.”Yuze mendekat, mengecup keningnya sangat cepat, lalu berjalan tergesa menuju pintu. Pintu depan tertutup sebelum Meilin sempat mengangkat mangkuk bubur."Tuan Muda pergi tanpa makan,” keluh Meilin.Anli tersenyum lembut, mengusap perutnya. “Kalau begitu, nanti kita bawakan.”Ia meminta Meilin untuk membantunya menyiapkan bekal makanan. Dalam waktu singkat sebuah kotak makan rapi tersusun.“Ayo!” kata Anli tenang.“A-apa kita benar-benar… ke kantor Tuan Qin?” tanya Meilin memastikan sekali lagi.“Dia harus makan,” jawab Anli, sederhana, seolah itu adalah hukum alam.Qin Holdings di Lobi Utama.Begitu Anli memasuki gedung dengan langkah pelan, seluruh lobi menoleh. Gaun hamilnya
Terakhir Diperbarui : 2025-11-24 Baca selengkapnya