Meggie melangkah pelan mendekat, menundukkan sedikit tubuhnya sebelum berbisik di samping Inez. “Mereka sering bertanya… kapan semua orang akan berkumpul lagi seperti dulu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat senyum Inez meredup. Di seberangnya, Evander yang semula berdiri tegak mendadak terdiam, napasnya terasa berat.“Seperti dulu?” ulang Inez lirih.Meggie mengangguk. “Ya. Sebelum wabah. Sebelum banyak hal berubah.”Inez memalingkan wajahnya ke arah Juliana yang tengah berdiri di atas kursi kecil, kedua tangannya terentang, berusaha menyeimbangkan diri seolah sedang menaklukkan panggung besar.“Banyak hal memang berubah,” gumam Inez, suaranya nyaris tenggelam oleh tawa anak itu.Evander menangkap nada sendu yang tak sempat disembunyikan. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Inez tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana. “Tapi tidak semua berubah menjadi buruk,” ujarnya tenang.Inez menoleh, alisnya terangkat tipis. “Tidak?”Evander men
Read more