ログインClara mengernyitkan keningnya mendengar ajakan Thorian. “Kalau ini ternyata rapat politik terselubung, aku akan turun di tengah jalan.”“Tidak ada dewan. Tidak ada utusan. Hanya aku.” Ia menuntunnya melewati jalan setapak menuju kuda hitam besar yang terikat di bawah pohon. Sesekali pria itu tersenyum melihat sikap Clara yang memang unik menurutnya. Clara menyipitkan mata. “Kau selalu membawa kuda sebesar ini?”Thorian menganguk kecil. “Aku perlu sesuatu yang cukup kuat membawa dua orang.”Clara belum sempat mencerna kalimat itu ketika Thorian sudah mengangkat tubuhnya dengan mudah, menempatkannya di pelana depan.“Tuan Thorian!” Clara berjengit kaget mendapat perlakuan seperti itu. “Apa?”“Aku bisa naik sendiri.”“Aku tahu.”Nada itu membuat Clara mendengus, tapi ia tidak benar-benar marah. Jantungnya justru berdetak terlalu cepat.Berduaan dengan Thorian dalam keadaan sadar membuatnya merasa gugup, cemas dan canggung. Pokoknya, segala perasaan tumpang tindih pada akhirnya. Bebera
Thorian melangkahkan kakinya, memangkas jarak di antara dirinya dengan gadis yang akhir-akhir ini selalu mengusik tidurnya. Gadis yang berhasil meluluhlantakkan pikirannya. Gadis yang telah berhasil mewarnai kanvas dalam hidupnya. Wajah Clara menegang tatkala merasakan tatapan pria dewasa di depannya. Tatapannya sayu dan hangat. Tatapan yang berbeda dari biasanya. Tatapan yang lebih tajam ketimbang tatapan anak panah yang menembus kulit di tubuhnya. Bibirnya bergerak hendak bertanya. Apa yang ingin kaukatakan, Pangeran? Namun entah kenapa, tiba-tiba jantungnya berdegup tak karuan. Lidahnya terasa kelu hingga ia kesulitan hanya untuk meloloskan sepatah kata pun. Tanpa tedeng aling-aling, Thorian meraih ke dua tangan lentiknya, menggenggamnya hangat. Clara mengerjap, mendapat sentuhan tiba-tiba itu. Apalagi tatapan pria itu masih terpacak pada wajahnya, lurus, sayu dan tidak berkedip. Detik berikutnya, tubuhnya terasa membeku tatkala sesuatu mengusap bibirnya dengan lembut. Napasnya
Clara berjalan bolak-balik di depan kamar yang ia tempati. Ia tidak bisa tidur nyenyak. Di tangannya sebuah surat digenggam erat. Surat yang dikirim oleh Thorian untuknya—yang memintanya bertemu. “Pergi? Enggak? Pergi? Enggak?” monolognya dengan hati yang gelisah. “Kau mau melamar jadi pengawal istana?” Nathan menghampiri kakaknya. Ia berjalan ke arahnya sembari mengucek matanya yang terasa berat. Malam sudah larut, tetapi suara-suara kecil yang dibuat sang kakak, membuatnya terbangun dari mimpi indahnya. Padahal ia tengah bermimpi menjadi seorang putra mahkota di negeri antah berantah. Ketika mendengar suara adiknya, Clara menoleh dengan tatapan tajam. “Aku seorang tabib. Aku tidak tertarik mengawal orang.” Nathan mendesah pelan. “Jadi apa yang kaulakukan malam begini? Apa jangan-jangan kau berniat kabur dari istana?”Clara memutar ke dua bola matanya jengah. Adiknya itu memang sosok yang paling senang menggodanya. “Nathan, ini bukan urusanmu,” bentak Clara akan tetapi sama seka
Meggie melangkah pelan mendekat, menundukkan sedikit tubuhnya sebelum berbisik di samping Inez. “Mereka sering bertanya… kapan semua orang akan berkumpul lagi seperti dulu.”Kalimat itu sederhana, tapi cukup untuk membuat senyum Inez meredup. Di seberangnya, Evander yang semula berdiri tegak mendadak terdiam, napasnya terasa berat.“Seperti dulu?” ulang Inez lirih.Meggie mengangguk. “Ya. Sebelum wabah. Sebelum banyak hal berubah.”Inez memalingkan wajahnya ke arah Juliana yang tengah berdiri di atas kursi kecil, kedua tangannya terentang, berusaha menyeimbangkan diri seolah sedang menaklukkan panggung besar.“Banyak hal memang berubah,” gumam Inez, suaranya nyaris tenggelam oleh tawa anak itu.Evander menangkap nada sendu yang tak sempat disembunyikan. Ia melangkah mendekat, berdiri di sisi Inez tanpa menyentuh, tapi cukup dekat untuk menunjukkan bahwa ia ada di sana. “Tapi tidak semua berubah menjadi buruk,” ujarnya tenang.Inez menoleh, alisnya terangkat tipis. “Tidak?”Evander men
“Sepertinya aku akan pulang,” ujar Inez mengakhiri percakapan dengan Clara. Ia menatap Ethan yang sedang menyusu lalu tertidur. “Bayiku sudah tidur lagi. Aku jadi mengantuk juga,” katanya sembari menguap pelan. Bawaan hormon menyusui membuatnya mudah sekali mengantuk. Clara menatap baby Ethan lama. “Sebaiknya kau menginap di sini. Kau belum bertemu dengan si kembar kan,” tebaknya. Inez mengerjap. “Aku nyaris melupakan mereka. Aku tidak melihat mereka di manapun semenjak tiba di sini.”Clara menarik napas dalam sebelum melanjutkan ceritanya. “Semenjak wabah merebak, mereka diasingkan ke paviliun. Mungkin sebentar lagi akan kembali tinggal di istana sayap timur.”Inez tersenyum simpul. “Pangeran Leon pasti sangat protektif pada mereka.”Clara mengangguk pelan. “Jangankan pada anak dan keluarganya. Dia juga …” ada jeda tipis sesaat sebelum melanjutkan kalimatnya. Teringat akan perhatian Leon saat pergi langsung menjemputnya ke perbatasan dengan pengawalan yang ketat. “Kau tidak tertar
Sebelum pulang, Inez menyempatkan diri menemui seseorang. Seseorang yang cukup dekat dengannya selama ini.Ketika ia berjalan menuju air mancur di taman, tampak Clara duduk di bangku batu, membuka catatan kecilnya.“Izin duduk?” Inez berkata singkat. Clara menoleh. Inez berdiri beberapa langkah darinya, menggendong Ethan yang terlelap di dadanya.Clara tersenyum hangat. “Untukmu? Selalu.” Tak lama kemudian, tatapannya turun pada bayi Inez.Inez duduk di sampingnya, menghela napas panjang. “Aku baru dari ruang ibunda ratu.”Clara mengangkat alis tipis. “Dan kau masih terlihat utuh. Itu kabar baik.”Inez terkekeh kecil. “Entah bagaimana… Ethan berhasil melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan.”“Membenturkan tembok?” tebak Clara.“Menghancurkan tembok, lebih tepatnya,” jawab Inez pelan. Mereka paham betul apa yang dimaksud ‘tembok’ adalah hati wanita itu. Mereka terdiam sejenak, memandangi wajah bayi yang damai.“Dia tumbuh cepat,” ujar Clara lembut. Sial, tiba-tiba ia membayangka







