Sebelum pulang, Inez menyempatkan diri menemui seseorang. Seseorang yang cukup dekat dengannya selama ini.Ketika ia berjalan menuju air mancur di taman, tampak Clara duduk di bangku batu, membuka catatan kecilnya.“Izin duduk?” Inez berkata singkat. Clara menoleh. Inez berdiri beberapa langkah darinya, menggendong Ethan yang terlelap di dadanya.Clara tersenyum hangat. “Untukmu? Selalu.” Tak lama kemudian, tatapannya turun pada bayi Inez.Inez duduk di sampingnya, menghela napas panjang. “Aku baru dari ruang ibunda ratu.”Clara mengangkat alis tipis. “Dan kau masih terlihat utuh. Itu kabar baik.”Inez terkekeh kecil. “Entah bagaimana… Ethan berhasil melakukan hal yang tak pernah bisa kulakukan.”“Membenturkan tembok?” tebak Clara.“Menghancurkan tembok, lebih tepatnya,” jawab Inez pelan. Mereka paham betul apa yang dimaksud ‘tembok’ adalah hati wanita itu. Mereka terdiam sejenak, memandangi wajah bayi yang damai.“Dia tumbuh cepat,” ujar Clara lembut. Sial, tiba-tiba ia membayangka
Read more