“Aku tahu aku brengsek, Ellena. Aku selalu memaksamu menuruti gengsi gila yang kupunya, selalu bersikap kaku, dan tidak pernah mendengarkan apa yang sebenarnya kamu rasakan,” bisik Alan dengan dahi yang masih menempel di punggung tangan Ellena. Suaranya serak dan putus-putus. “Bangunlah. Aku mau menebus semuanya. Kamu mau memakiku atau memukulku setelah ini, silakan. Tapi tolong, gerakkan sedikit saja jarimu.”Alan menunggu dalam keheningan yang mencekam, berharap ada keajaiban kecil, tapi jemari Ellena tetap lemas dan sedingin es. Tidak ada pergerakan sekecil apa pun dari wanita itu.Alan menegakkan tubuhnya, menatap wajah pucat Ellena dengan mata yang basah dan merah. “Apa di sana terasa sangat sakit, Ellen? Apa di sana gelap? Kamu takut? Mana yang sakit? Maaf karena aku tidak ada di sana saat mobilmu kecelakaan. Maaf karena aku terlambat. Aku bodoh. Aku pengecut. Maaf …. Maaf ….”Dia meraba perban tebal di kepala Ellena dengan ujung jarinya yang gemetar, ketakutan yang luar biasa
続きを読む