Danastri keluar dari hotel dengan langkah terseret, napasnya memburu seperti baru saja lari dari sesuatu yang menakutkan. Kerlap-kerlip lampu kota terasa terlalu terang, terlalu ramai, terlalu bising untuk hati yang sedang pecah.Matanya berkaca-kaca, tetapi dia menolak menangis. Ketika sebuah taksi berhenti di depannya, Danastri hanya membuka pintu dan masuk tanpa bicara apa pun."Selamat malam, Nona. Mau ke mana tujuannya?" "Putari saja kota ini yang jauh sampai saya berkata untuk berhenti. Nanti saya akan bayar ongkosnya berapa saja," ucap Danastri nyaris berbisik."Baik, Nona." Tanpa banyak bicara bapak tua itu pun menyetir perlahan seolah tahu jika sang penumpang memiliki masalah.Taksi melaju menembus malam. Danastri bersandar pada jendela sambil memandangi lampu kota yang memanjang seperti goresan cat. Dada terasa penuh, tenggorokan perih, dan pikirannya kacau. Semua terasa seperti mimpi yang buruk.Dia benar-benar terkejut saat Widipa mengatakan dia tak hilang ingatan dan bek
Last Updated : 2025-11-26 Read more