Setelah badai itu mereda, suasana ruangan yang tadinya bising oleh deru napas dan erangan mendadak menjadi sunyi yang intim. Claudia masih bertumpu pada sofa, bahunya naik turun dengan tidak teratur, sementara aku masih memeluknya dari belakang, mencoba mengatur detak jantungku yang masih berdetak gila.Aku mengecup pundaknya yang berkeringat, lalu membalikkan tubuhnya perlahan. Wajahnya terlihat berantakan; rambut yang acak-acakkan, bibir yang bengkak, dan mata yang masih berkaca-kaca karena puncak kenikmatan tadi. Ia nampak begitu manusiawi, begitu jauh dari kesan "Wanita Besi" yang ditakuti di kantor pusat."Kamu baik-baik saja, Kak?" tanyaku lembut sambil merapikan helaian rambut yang menempel di pipinya.Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya menyandarkan kepalanya di dadaku, menghirup aroma tubuhku dalam-dalam. "Aku merasa... hidup, Aryo. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa bukan sekadar pajangan atau mesin pencetak uang."Aku membimbingnya duduk di sofa, menyeli
Última atualização : 2026-01-22 Ler mais