"Kenapa nggak? Coba kau belajar dari karakternya Bravi. Nggak ada orang yang selicik dan nggak tahu malu kayak kau itu." Memanfaatkan momen Richard yang masih terkejut, Suri mendorongnya keluar pintu dan hendak menutupnya dengan keras.Richard bersandar di kusen pintu, berpura-pura mendesis kesakitan. "Aduh, kau sudah narik sampai sakit."Suri tertegun."Aku masih di sini. Kalau pintunya kena kepalaku, aku bisa lumpuh dan akan menuntutmu seumur hidup.""Tapi kau kan nggak kenapa-napa!" Suri menatapnya tajam, lalu tersenyum dan berkata, "Pak Richard, Anda sudah berjanji, jadi silakan pergi."Richard entah mengapa kali ini menjadi patuh, dia tidak lagi berlama-lama dan berkata, "Oke, aku pegang janjiku.""Terus kenapa masih belum pergi?""Aku nggak tega tinggalin tetanggaku, aku masih mau melihatmu sebentar lagi."Suri menahan keinginan untuk memutar bola matanya, dan mulai menghitung, "Satu, dua, tiga…"Richard dengan cepat memberikan ciuman jauh dan akhirnya benar-benar pergi dengan pa
続きを読む