Maya keluar dari ballroom hotel itu dengan langkah cepat, tapi tetap elegan—dress maroonnya berayun pelan, high heels berbunyi tajam di lantai marmer lobby yang dingin. Senyum palsunya masih menempel di bibir, tapi begitu pintu lift tertutup, wajahnya berubah total. Air mata jatuh pelan, tapi bukan karena sedih—marah, kecewa, dan panik campur aduk seperti badai di dada. "Gue gak percaya," gumam Maya, tangannya mengepal erat ponsel. "Raymond nikah? Sama Ayara? Ayara yang biasa aja itu?" Lift turun pelan, tapi pikiran Maya berlari kencang. Ia ingat malam di villa Puncak beberapa bulan lalu, malam yang ia rencanain dengan detail seperti skenario film. Maya tau Raymond suka dia dari dulu, tapi ia selalu tolak karena Raymond bukan tipenya, dia terlalu baik, terlalu aman, nggak exciting. Ia suka pria seperti Rio—sama ganteng, tapi liar, yang bikin adrenalin naik, yang bisa membuatnya ke langit ke tujuh penuh kenikmatan. Tapi Rio, setelah malam panas itu, tolak tanggung jawab saat Maya
Terakhir Diperbarui : 2025-12-25 Baca selengkapnya