Pagi di villa terasa berat, seperti selimut basah yang menempel di kulit. Cahaya matahari Jakarta menyusup lewat tirai tipis, menerangi lantai yang masih berantakan: gelas wine kosong, pakaian terlempar sembarangan, bau alkohol dan sex yang masih menempel di udara. Maya bangun pelan, tubuhnya pegal-pegal nikmat tapi juga lelah. Rio sudah tak ada di sampingnya—mungkin sudah turun ke bawah, atau sudah pulang. Dia duduk di tepi ranjang, tangannya memegang perut datar yang tiba-tiba terasa asing. Mual pagi tadi di kamar mandi masih terasa samar, tapi dia dorong ke belakang pikiran. Maya mencoba berpikir, "Belum tentu hamil. Cuma mual biasa. Alkohol terlalu banyak, atau makan malam yang salah." Dia tarik napas dalam, lalu berdiri. Mandi cepat di kamar mandi kecil, air dingin menyiram tubuhnya, membersihkan sisa keringat malam tadi. Saat sabun menyentuh perut, tangannya berhenti sebentar—tapi dia cepat alihkan, gosok lebih keras seolah bisa menghapus pikiran itu. Di bawah, beberapa te
Last Updated : 2025-12-13 Read more