Malam itu, apartemen masih terasa berat setelah Raymond pulang dengan wajah memar dan pakaian lusuh. Ayara langsung panik liat suaminya masuk pintu, bibir berdarah, pipi bengkak, kancing kemeja hilang beberapa, tangan kanan memar seperti abis memukul sesuatu keras. “Lo abis ngapain, Mond?!” teriak Ayara, langsung lari ke arahnya, tangannya gemetar pegang wajah Raymond pelan. Raymond cuma nyengir tipis, meskipun sakit. Ia duduk di sofa, cerita semua: pertemuan dengan Rio, kata-kata sinis, tinju yang melayang, dan rahasia mandulnya yang terbuka karena amarah. Ayara diam lama, mata merah, tapi nggak nangis. “Ya Allah, Mond… gue bingung harus ngomong apa… tapi si Rio emang brengsek!” “Sorry ya, Ra…” bisik Raymond, suaranya serak karena lelah dan penyesalan. “Udah… sini gue obatin dulu…” Ayara ambil kotak P3K, duduk di pangkuan Raymond, obati luka bibirnya pelan dengan alkohol, lalu oles salep di memar pipi dan tangan. Gerakannya lembut, penuh sayang, seperti lagi bilang “gue di sini
Last Updated : 2025-12-14 Read more