Athalla menundukkan kepala, tidak sanggup membalas tatapannya.Luna menatapnya dengan mata yang memerah, air mata tampak berkilat. “Kenapa… kenapa bukan aku saja perempuan yang kau inginkan, Athalla…?”Di antara mereka, udara seakan membeku penuh kata-kata yang tidak diucapkan, penuh perasaan yang terlambat disadari, dan penuh luka yang tidak tahu harus diarahkan ke siapa.***Halaman rumah itu sunyi ketika Luna tiba.Begitu ia melangkah masuk, hawa dingin yang menyambut rasanya seperti tamparan telak. Tidak ada tawa tamu, tidak ada musik lembut, tidak ada suara keluarga calon tunangannya. Tidak ada apa-apa.Semua sudah pergi.Tentu saja mereka pergi.Luna memejamkan mata sebentar, menghirup napas yang bergetar. Sepanjang perjalanan, ia berusaha menenangkan diri di tepi jembatan. Duduk sendirian sambil menangis, sambil memaki hidupnya, sambil menyalahkan siapapun yang bisa ia salahkan.Entah Athalla.Entah dirinya sendiri.Entah takdir.Entah keputusan-keputusan yang terasa salah seja
Last Updated : 2025-11-25 Read more