Saat udara segar pertama kali sentuh wajahnya, Wulan menutup mata dan tersenyum puas. Ia berhasil tebak dengan tepat, taruhannya menang. Namun di balik kelegaan itu, iri kembali bakar hatinya. Ia harus akui, Sonya memang perempuan yang terlahir beruntung.Cakra antar dia ke sebuah rumah yang telah disiapkan sebelumnya. Tempat itu tampak seperti vila pribadi, tapi dari luar hingga dalam dijaga ketat. Nggak lama kemudian, Indra muncul, langkahnya bawa hawa dingin, wajahnya kelam tanpa ekspresi.Wulan tersenyum lembut, seolah nggak pernah ada darah, kebencian, atau penjara di antara mereka. Dengan nada manja yang dulu sering ia gunakan, ia sapa Indra, “Kak Indra, lama sekali nggak ketemu.”Indra duduk di hadapannya, tatapannya tajam dan gelap seperti malam sebelum badai. Ia nggak tanggapi basa-basi itu, langsung menembak, “Di mana orangnya?”Wulan pura-pura nggak dengar.“Sudah lama nggak ketemu, apa nggak ada sedikit pun yang mau kamu bicarakan ke aku?”Tatapan Indra mendingin, sorot ma
Read more