Alya menerima gelas itu dengan kedua tangan. Uap tipis masih mengepul dari permukaannya, aromanya menenangkan, nyaris seperti minuman rumahan yang biasa Mbok Siti buat. “Terima kasih, Fi,” katanya pelan. Rafi hanya tersenyum, duduk santai di kursi seberang, sikapnya wajar, nyaris terlalu wajar. Tak ada yang mencurigakan dari caranya memperhatikan Alya, sekilas hanya seperti teman yang memastikan tamunya nyaman. Alya meneguk sekali. Lalu sekali lagi. Beberapa detik pertama tak terjadi apa-apa. Namun perlahan, kelopak matanya terasa berat, seperti ada selaput tipis yang menurunkan tirai pandangannya. Kepalanya sedikit berdenyut, bukan sakit, hanya kosong. Ia mengerjap, berusaha fokus. “Fi,” gumamnya, suaranya melemah tanpa ia sadari. “Aku kok tiba-tiba ngantuk, ya?” Rafi mengangkat alis sedikit, ekspresi heran yang tampak tulus. “Mungkin kamu kecapekan nyiapin pernikahan kamu,” ujarnya ringan. Alya tersenyum kecil, mencoba menertawakan dirinya sendiri. “Bisa jadi sih, Fi.” R
Read more