“Ana! Ana, bangun!” Guncangan pelan dan tepukan itu membuat tubuh Ana tersentak keras. Ia terbangun dengan napas memburu, dada naik turun cepat seolah baru saja dikejar sesuatu yang menakutkan. Perlahan, matanya mengerjap, pandangannya berpendar memindai sekeliling. Langit-langit kamar yang familiar menyambutnya. Tirai jendela tertutup rapat. Lampu temaram menyala. Keringat dingin membasahi pelipisnya. Di hadapannya, Bu Sri menatap dengan wajah cemas. “Kamu mimpi buruk?” tanya wanita itu lembut, tangannya masih bertahan di bahu Ana. Ana menelan ludah. Jantungnya masih berpacu keras, seakan belum menerima bahwa semua itu telah berakhir. Mimpi…? Apakah semalam hanya mimpi? Rasanya terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur. Setiap detik, setiap sentuhan, bahkan ketakutan yang menjerat dadanya—semuanya terasa hidup. Namun saat Ana menyadari dirinya masih berada di kamar sendiri, dan selimut rapi menutupi tubuhnya, napasnya perlahan mengendur. Ia mengembuskan napas lega, meski ada
Last Updated : 2026-02-10 Read more