Mobil berhenti tepat di pelataran hotel milik keluarga Wicaksana. Gedung tinggi menjulang itu memantulkan cahaya matahari pagi—megah, dingin, dan berwibawa. Sama seperti pemiliknya. Jeffreyan turun tanpa menunggu Tama membukakan pintu. Langkahnya panjang dan tegas, seolah tak ada beban di pikirannya. Namun di balik sorot mata gelap itu, bayangan seorang gadis bermata ketakutan terus muncul tanpa diundang. Ana. Rapat berlangsung alot. Para direksi menyampaikan laporan ekspansi, grafik keuntungan, serta rencana akuisisi. Semua berjalan sesuai prediksi Jeffreyan. Ia menanggapi singkat, tepat sasaran, tanpa memberi ruang bantahan. Sempurna. Rapat kali ini cukup memuaskan bagi Jeffreyan yang terkenal perfectionis. Namun entah mengapa, di tengah pembahasan jutaan dolar itu, pikirannya melayang. Apa gadis itu sudah makan hari ini? Apakah ia masih gemetar setiap malam datang? Apakah ia masih memeluk perutnya sambil menangis dalam gelap? Semua pertanyaan itu memenuhi benak Jeffr
Last Updated : 2026-01-25 Read more